Turkish RQV Daily Story – Season 1

Turkish RQV Daily Story – Season 1

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh ..

Izinkan jari-jemari ini untuk menari ria diatas keyboard kecil berwarna ungu, berkarya sudah menjadi hak miliknya,

Pada tanggal 19 Maret 2021, tercatat bahwa pada pukul 00:45 kami siap untuk terbang ke Turki. Pagi hari, aku mempersiapkan diri baik secara fisik, mental dan kesiapan diri harus bisa semaksimal mungkin. Segala pemberkasan yang menjadi syarat untuk bisa berhasil menebus ke tanah peradaban benar-benar harus di perhatikan secara detail.

“Rapid test dulu!” kata pelatih Safina, ya beliau adalah satu-satunya pelatih kami yang akan berangkat juga ke Turki bersama kami. Beliau berasal dari Kota Bekasi, tak bisa di sangka bagi kami untuk bisa menjadi ya bisa dibilang teman travelling. Oiya, beliau ini juga sebagai Direktur Platform Patungan Bareng, pelatih kami yang sangat luar biasa kesabarannya.

Setelah Rapid tes antigen, teman-teman seperjuangan yang ada di bumi violet, pusat pembelajaran kami semua berkumpul untuk persiapan pelepasan Jaulah Qur’an. Suara gemuruh yang ada di aula violet, terdengar indah dan tenang. Bagaimana tidak, suara yang dikeluarkan dari mulut mereka adalah bacaan Qur’an.

“Shodaqallahul’adziim”

Tepat pada ba’da Asar, pelepasan pun segera dimulai.Pada saat itu, rasa jantung berdebar, keringat dingin, semua menyatu dalam tubuh saat si pembawa acara menyatakan “Pelepasan Jaulah Qur’an Istanbul, Turki akan segera dimulai”. Tak menyangka kami berempat yang menjadi perwakilan tim RQV pada saat itu, yang dimana ini salah satu amanah dan kepercayaan mereka kepada kami.Tentu, bukan perkara mudah bagi diantara hati kami yang masih memiliki niat yang bercabang.

Aku adalah Fitriana yang biasa mereka panggil Muna, ucapan serta do’a yang tiada hari mereka lontarkan. Ya, aku berasal dari tanah Borneo, tepatnya di Kota Balikpapan. Bangga sekaligus haru, karena pada akhirnya aku bisa membawa nama kota itu sendiri dan melebarkan nama RQV ke negri peradaban. berkali-kali aku mengutaraan rasa syukur agar Allah Ridho terhadap jalanku.

Bersama kedua rekan jaulahku, yang dimana Qadarullah masing-masing kami berbeda tempat asalnya. Ya, anak yang banyak sekali menorehkan prestasi, Ainun namanya. Ia berasal dari majene, Sulawesi Barat. Serta Oca, berasal dari suku sunda campuran betawi ini menjadi salah satu anak yang berhasil menaklukkan program Idul Adha yang di selenggarakan pada tahun 2020 kemarin.

Harapan pelatih Irwan pada saat berdiri didepan mimbar, menjadikkan kami membuat nota kecil di dalam fikiran kami untuk senantiasa apa maksud dari Allah terhadap rencana ini. Serta siraman motivasi, semangat yang masuk kedalam hati dan jiwa kami, agar hati kami tetap lurus pada jalan yang sudah kami rajut bersama.

Ba’da maghrib pun tiba, semua barang yang sudah siap di eksekusi tersusun rapi berdiri di depan pintu bumi violet.

“Ayo! Angkat semua barang-barangnya ke dalam mobil, segera!” Otomatis tombol on pada tubuh ini langsung beraksi.

Satu demi satu barang-barang diangkut dengan penuh keyakinan, dan semangat yang membara. “Pamit yah, Assalamu’alaykum!” Kataku kepada mereka yang berharap kami pergi dan pulang dalam keadaan selamat dan menghasilkan karya. Keluar gerbang dari bumi violet seketika diri perbanyak istighfar dan muhasabah diri, bahwasannya ini adalah amanah dan tanggung jawab yang besar terhadap perjalanan kami ke Turki.

Gelapnya malam menyatu dengan jendela mobil, heningnya box berjalan menghantarkan kami ke dunia mimpi, seketika bangun sudah tiba di Turki, itu harapan kami hehe.

2 jam berlalu, akhirnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Sang troly yang kokoh tegap dengan sigap memberikan bantuannya kepada barang-barang kami.
Melihat arah jarum jam yang terus berputar, kami mempercepat langkah kaki kami untuk segera check in. Pelan-pelan koper yang kami bawa berjalan menuju meja check ini. Semua persyaratan di terima dengan baik. Namun, tiba-tiba,

“harus pakai PCR, tidak bisa pakai Rapid test!”. Kata laki-laki yang bertugas di tempat check in.

Dengan wajah heran, tubuh sigap, lantangnya seorang wanita Bekasi kepada laki-laki itu “Sesuai dengan arahan, bahwasannya kami disuruh pilih antara dua pilihan PCR/Rapid?” Sambil mengerutkan dahi serta tajamnya mata menatap laki-laki itu.

Hampir setengah jam, koper kami belum beranjak dari tempat Check In. Melihat satu spesies mereka yang berderet panjang memenuhi ruang antrian, membuat kami semakin geram terhadap penolakan yang berkali-kali dari laki-laki itu. Dan pada akhirnya, kami di arahkan untuk ke tempat tes Covid19.

“Arrgghh!! Ada apa ini?” Kataku untukku.

Tanpa berfikir panjang, kami segera meninggalkan laki-laki itu dengan penuh rasa kecewa dan langkah kaki dipercepat menuju tempat tes Covid19. Pelatih kami, Safina yang terus berusaha untuk bisa tembus persyaratan pada malam itu.

“Jadi bagaimana ini?!” Dengan tegas pelatih Safina saat berbicara dibalik telepon.

Segala usaha yang sudah di lakukan dan maksimal, pada akhirnya tepat pukul 22.30 kami balik lagi ke Bekasi. Dan langsung memesan Grab, Hufftt! Lelah, letih berpihak pada tubuh kami dalam satu waktu.

Hembusan angin, yang seakan ia ingin merangkul pundak kami dan mengatakan bahwa kalian baik-baik saja.

“Kita Reschedule tiket, InsyaaAllah besok malam kita berangkat lagi.” Kata pelatih kami dengan kepasrahannya terhadap takdir yang sudah ditentukan.

Teenggg!! Zrrrrrr, suara pintu yang meributkan keheningan pada pukul 01.00 , tiba-tiba ..

BERSAMBUNG.

By Muna.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Need Help? Chat with us