Sepenggal Kisah Haru Gadis Yatim Keturunan Betawi,Bugis,Chinese Asal Jakarta

Sepenggal Kisah Haru Gadis Yatim Keturunan Betawi,Bugis,Chinese Asal Jakarta

Adara izellah Irfan, gadis belia yang berkulit putih campuran betawi,bugis, chinesse. Terlahir dari keluarga yang muallaf dan bertempat tinggal di Desa Pondok Labu, Cilandak Jakarta Selatan. Dara sapaan akrabnya, ia putri pertama dari bapak Irfansyah dan Ibu Soraya. Ia seorang gadis yang friendly,tak heran ketika mudah akrab dengan siapa pun.

Setiap pagi hingga larut malam Adara harus menahan pedihnya kesendirian. Kala itu, usianya baru lima tahun . Ia harus ditinggal berteman kesunyian di tengah keramaian dan keganasan kota Jakarta. Setiap hari Ibunya pergi pagi pagi sekali untuk bekerja. Adara kecil dititipi pesan pesan kehidupan setiap pagi sebelum ibunya pergi bekerja dan harus pulang larut malam demi menyambung kehidupan.

Tak jarang air mata sang Ibu jatuh karena mendapati Adara harus berjuang mengambil makanan sendiri, mengambil air sendiri bahkan Adara tak jarang berinsiatif untuk mengangkat pakaian sementara usianya belum genap enam tahun . Keyakinan akan pertolongan Tuhan tertanam kuat didalam hati Ibunya. Serangkaian Pahitnya kehidupan membuat Adara tampil mandiri dan tegar di usia

emas Adara yang membutuhkan kasih sayang.

Hidup Adara berubah drastis semenjak ayahnya meninggal sepuluh tahun silam. Adara yang kala itu masih berusia lima tahun tidak mengerti betul bagaimana cara kuat ditengah kehilangan tulang punggung keluarga. Di wajah polosnya masih saja tersimpan ketegaran karena masih ia lihat ibu ada di samping dan terus memeluknya.

Tepat tahun 2011, Almarhum Ayah Adara menghembuskan nafas terakhir kalinya karena sakit meningitis yang idapnya. Ibu Adara sangat terpukul karena Adara kecil harus berjuang tanpa kasih sayang sang ayah saat itu. Masa kecilnya harus dihabiskan dengan kerikil kerikil tajam kejamnya kehidupan di Kota Jakarta.

Tapi, Ibu nya sadar , ini bukan akhir dari segalanya. Hidup harus terus di lanjutkan walau dengan segala kesakitan.

Adara Izzelah Irfansyah, adalah anak kandung dari Bapak Welfi Irfansyah Asiddiq dan Ibu Andi Soraya. Adara adalah gadis keturunan Tionghoa. Ia memiliki nama sapaan Adara Afung yang artinya Kemerah merahan. Semenjak kecil Adara telah diperkenalkan dengan adat almarhum ayahnya yang memang keturunan Tionghoa. Ayah Adara telah lama menjadi mualaf . Kakek Adara memutuskan masuk islam setelah menikah dengan neneknya yang bersuku Betawi.

Adara kini genap berusia lima belas tahun, di usia remaja nya ia telah banyak menjalani kehidupan dengan segala cerita pahit manisnya. Tempaan sang Ibu sejak kecil membuat Adara kini tampil sebagai gadis yang visioner dan ambisius meraih masa depan.

Gadis asal Jakarta yang lahir tanggal 7 Januari 2006 itu, bercita cita menjadi seorang psikolog professional. Ia optimis dapat mengejar impiannya karena keyakinan pada doa dan dukungan penuh dari Ibunya. Menurutnya, menjadi psikolog akan membuatnya berpeluang membantu banyak orang . Terlebih anak anak yang kehilangan kasih sayang.

Adara punya berjuta kisah perjuangan dengan sang Ibu yang hingga kini kemesraan keduanya masih sangat terlihat. Saling mendukung satu sama lain adalah budaya yang lama di bentuk di keluarga kecilnya.
Termasuk keputusan Adara untuk bergabung bersama Oganisasi Yatim Indonesia (OYI) yang bertempat di Kota Bekasi. Disana , ia belajar karakter dengan landasan kitab suci Alqur’an. Adara memutuskan untuk bergabung karena ia percaya di tempat baru ini segala cita cita besarnya bisa di jembatani.

Adara tampil percaya diri semenjak bergabung di Rumah yatim Bekasi . Rekam sejarah Adara yang tercatat pernah menjadi perwakilan terpilih menjadi dokter kecil sejak sekolah dasar dan deretan prestasi Adara lainnya membuat Adara tampil percaya diri. Belum lagi Adara yang juga telah belajar bela diri Taekwondo yang membuat ia terlihat siap sedia dengan segala kondisi.

Adara ingin memiliki banyak keahlian dan kemampuan agar bisa membantu orang lebih banyak. Sejak kecil hingga sekarang sesiapa yang mengenal Adara akan berakhir pada tuturan kebahagian. Adara sejak kecil telah di titipkan pesan oleh Ibunya agar jangan pernah merasa sombong . Karena sombong adalah sifat yang sangat jelek ‘. Ibunya berpesan dengan filosofi mendalam tentang Padi, ‘‘Bahwa semakin tinggi Padi tumbuh dan Berisi, Padi semakin merunduk kebawah. Dan Ibunya menambahkan bahwa Hidup harus Berdiri tegak seperti Pohon , walaupun dilempari batu oleh orang orang, diterpa angin kencang, tapi tetap kokoh berdiri karena sudah didasari dengan akar yg kuat dari dasarnya. Itulah pesan ibunya yang sampai saat ini di simpan baik oleh Adara.

Adara optimis dan percaya . Ketegaran, kesabaran dan ambisi akan membawa seseorang pada jalan kesuksesan. Tidak peduli apapun kondisinya. Walau kehilangan sebelah sayapnya . Ia masih bisa terbang lebih jauh dengan titipan kekuatan dari Tuhan.

 

Need Help? Chat with us