Setelah Air Surut, Hidup Mereka Belum Benar-Benar Kembali

Setelah Air Surut, Hidup Belum Mereka Benar-Benar Kembali

Air memang telah surut. Lumpur mulai mengering, sisa-sisa banjir tampak seperti luka yang pelan-pelan mengeras di tubuh kampung. Namun bagi banyak orang, terutama mereka yang terdampak paling dalam, hidup belum sepenuhnya kembali seperti semula. Tiga potret ini—seorang ibu dengan anaknya, keran air yang mengalirkan lumpur, dan lembaran buku metode mengaji yang tergeletak kotor—bercerita lebih jujur daripada angka kerugian dan laporan resmi. Mereka adalah saksi bisu tentang apa yang tertinggal setelah bencana berlalu.

Di sudut sebuah rumah yang dindingnya masih basah dan kusam, seorang ibu duduk sambil menggendong anaknya. Tidak ada kursi, tidak ada ruang tamu yang layak—hanya sisa puing, kasur yang basah, dan lumpur yang mengering di lantai. Anak kecil itu memegang balon berwarna pucat, satu-satunya benda yang tampak cerah di antara warna cokelat dan abu-abu yang mendominasi. Balon itu bukan sekadar mainan; ia menjadi simbol harapan yang rapuh. Seperti hidup mereka saat ini—ringan, mudah terbang, dan bisa pecah kapan saja.

Sang ibu menatap ke depan, bukan dengan tatapan kosong, tetapi dengan mata yang menyimpan banyak cerita. Ada lelah, ada takut, ada juga tekad yang tak terucap. Ia tidak menangis. Mungkin air mata sudah habis saat air bah datang dan menyeret perabotan, kenangan, dan rasa aman dari rumah kecil mereka. Di pelukannya, sang anak diam, seolah belajar sejak dini bahwa dunia bisa berubah dalam satu malam. Tidak ada keluhan, tidak ada tanya. Hanya kebersamaan yang tersisa.

Tak jauh dari situ, sebuah keran air berdiri menempel di dinding rumah. Air memang mengalir, tetapi bukan air yang diharapkan. Warnanya keruh, bercampur lumpur, seakan menolak disebut bersih. Keran ini mengingatkan kita bahwa kebutuhan paling dasar pun belum sepenuhnya pulih. Air—yang seharusnya menjadi sumber kehidupan—masih membawa jejak bencana. Setiap tetesnya mengisahkan betapa panjang jalan menuju normal yang harus ditempuh.

Bagi warga, keran ini adalah dilema. Mereka membutuhkan air untuk membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan memasak. Namun air yang tersedia belum sepenuhnya layak. Di sinilah realitas pascabencana sering kali tak terlihat kamera: perjuangan sunyi menghadapi keterbatasan. Tidak ada sorak, tidak ada berita utama. Hanya kesabaran yang dipaksa bertahan.

Lalu ada selembar buku pelajaran yang tergeletak di atas kayu, terbalut lumpur dan basah. Tulisan Arab di dalamnya nyaris tak terbaca. Buku itu mungkin milik seorang anak yang bercita-cita sederhana: belajar dengan tenang, menghafal pelajaran, dan melanjutkan sekolah tanpa hambatan. Namun banjir tak mengenal jadwal sekolah. Ia datang tanpa izin, menyapu mimpi-mimpi kecil yang belum sempat tumbuh.

Buku yang kotor itu adalah potret masa depan yang tertunda. Pendidikan sering kali menjadi korban paling senyap dalam bencana. Ketika rumah rusak dan kebutuhan dasar belum terpenuhi, belajar menjadi hal terakhir yang bisa dipikirkan. Anak-anak dipaksa dewasa lebih cepat, memahami bahwa hidup tidak selalu memberi ruang untuk bermimpi.

Ketiga gambar ini, jika disatukan, membentuk satu kisah utuh tentang kehilangan dan ketabahan. Mereka berbicara tentang keluarga yang bertahan dengan apa yang ada, tentang air yang belum sepenuhnya bersih, dan tentang pendidikan yang terancam terhenti. Ini bukan sekadar cerita tentang banjir. Ini adalah cerita tentang manusia—tentang bagaimana mereka berdiri di antara puing-puing dan tetap memilih untuk hidup.

Sering kali, setelah bencana, kita mendengar kalimat, “Syukurlah air sudah surut.” Kalimat itu benar, tetapi belum lengkap. Karena yang lebih penting adalah memastikan bahwa kehidupan bisa benar-benar kembali. Bukan hanya rumah yang dibangun ulang, tetapi juga rasa aman. Bukan hanya jalan yang diperbaiki, tetapi juga akses air bersih. Bukan hanya bantuan pangan, tetapi juga buku dan ruang belajar bagi anak-anak.

Ibu yang menggendong anaknya itu mungkin tidak meminta banyak. Ia hanya ingin tempat yang aman untuk tidur, air bersih untuk minum, dan masa depan yang lebih baik bagi buah hatinya. Anak kecil dengan balon itu tidak tahu tentang kebijakan atau anggaran. Ia hanya tahu bahwa ia ingin bermain dan tertawa tanpa rasa takut. Dan buku pelajaran yang kotor itu menunggu tangan-tangan peduli untuk menggantinya dengan yang baru—bersih, kering, dan penuh harapan.

Di sinilah peran kita diuji. Apakah kita akan berhenti peduli ketika kamera pergi dan berita berganti? Ataukah kita akan tetap hadir, memastikan bahwa pemulihan berjalan hingga tuntas? Bencana mungkin datang tanpa aba-aba, tetapi kepedulian seharusnya tidak bersyarat.

Ketika air surut, pekerjaan kita belum selesai. Masih ada lumpur yang harus dibersihkan, luka yang harus disembuhkan, dan mimpi yang harus diselamatkan. Tiga potret ini mengajak kita untuk melihat lebih dekat, merasakan lebih dalam, dan bertindak lebih nyata. Karena bagi mereka yang terdampak, hidup bukan tentang kembali seperti semula—tetapi tentang membangun ulang dengan harapan yang tersisa.

Dan selama masih ada balon yang dipegang anak kecil di tengah reruntuhan, selama masih ada ibu yang memeluk erat buah hatinya, dan selama masih ada buku pelajaran yang menunggu untuk dibaca kembali, harapan itu belum benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk dikuatkan—oleh kita semua.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top