Pidie Jaya, Rumah Pengajian Tertimbun Lumpur
Pidie Jaya, Aceh — Di sebuah sudut Kabupaten Pidie Jaya, lantai rumah pengajian masih dipenuhi lumpur yang mengering. Jejak air terlihat jelas di dinding-dinding masjid. Kitab-kitab basah dijemur seadanya, sajadah terlipat bercampur tanah, dan suara anak-anak mengaji yang biasanya menghidupkan suasana kini berganti sunyi. Bagi masyarakat Pidie Jaya, banjir bukan sekadar peristiwa yang telah lewat, melainkan kenyataan pahit yang masih mereka hadapi hingga hari ini.

Berdasarkan laporan langsung Founder RQV Foundation yang turun dan memantau kondisi lapangan, dampak banjir di Pidie Jaya masih sangat terasa. Sejumlah rumah pengajian, masjid, serta fasilitas sosial masyarakat tertimbun lumpur tebal akibat banjir yang melanda beberapa waktu lalu. Hingga kini, banyak bangunan tersebut belum dapat digunakan kembali secara normal.
“Lumpur menumpuk cukup parah, terutama di rumah pengajian dan masjid. Pembersihan manual sudah dilakukan oleh warga dan relawan, tetapi kondisinya sangat berat. Tanpa alat berat, proses pemulihan ini berjalan sangat lambat,” ungkap Founder RQV Foundation dalam laporannya.
Rumah Pengajian: Lebih dari Sekadar Bangunan
Bagi masyarakat Pidie Jaya, rumah pengajian bukan hanya tempat belajar membaca Al-Qur’an. Ia adalah ruang tumbuhnya nilai, tempat anak-anak mengenal agama, dan titik temu masyarakat untuk membangun kebersamaan. Ketika rumah pengajian tertimbun lumpur, yang hilang bukan hanya bangunannya, tetapi juga denyut kehidupan sosial dan spiritual warga.

Beberapa orang tua mengaku anak-anak mereka sudah lama tidak mengikuti pengajian karena tempat belajar belum layak digunakan. Sebagian memilih membersihkan sendiri dengan peralatan seadanya, meski harus mengangkat lumpur berat dan berbau. Namun, upaya tersebut tidak cukup untuk mengembalikan fungsi bangunan seperti semula.
“Anak-anak biasanya mengaji setiap sore. Sekarang mereka hanya bermain di rumah. Kami sedih, tapi juga tidak tahu harus bagaimana,” ujar salah seorang warga dengan mata berkaca-kaca.
Masjid dan Ruang Ibadah Masih Tertahan Lumpur
Tidak hanya rumah pengajian, sejumlah masjid juga mengalami kondisi serupa. Lumpur menutup lantai, merusak karpet, dan menyisakan bau lembap yang sulit dihilangkan. Padahal, masjid adalah pusat ibadah dan tempat masyarakat mencari ketenangan di tengah ujian bencana.

Bagi sebagian warga, tidak bisa beribadah dengan nyaman di masjid terasa seperti kehilangan tempat bernaung. Situasi ini menambah beban psikologis masyarakat yang sejak banjir terus berada dalam kondisi tidak menentu.
Excavator Menjadi Kebutuhan Mendesak
Dalam laporan lapangan tersebut, RQV Foundation menegaskan bahwa kehadiran excavator menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Alat berat dibutuhkan untuk mengangkat dan membersihkan lumpur yang sudah mengeras dan menumpuk dalam jumlah besar, khususnya di rumah pengajian, masjid, dan akses lingkungan warga.

Pembersihan dengan tenaga manusia saja berisiko terhadap keselamatan relawan dan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Sementara itu, masyarakat sangat membutuhkan fasilitas ibadah dan pendidikan keagamaan dapat segera digunakan kembali.
“Ini bukan soal cepat atau lambat, tapi soal keberlanjutan kehidupan masyarakat. Rumah pengajian dan masjid harus segera dipulihkan agar aktivitas keagamaan dan pendidikan bisa berjalan kembali,” tegas Founder RQV Foundation.
Banjir Susulan Kembali Merendam Posko
Situasi di Pidie Jaya semakin berat ketika curah hujan kembali turun dalam beberapa hari terakhir. Air kembali menggenangi sejumlah wilayah, termasuk area yang sebelumnya mulai dibersihkan. Bahkan, posko kemanusiaan yang telah dibangun sebagai pusat bantuan dan koordinasi pun kembali terendam banjir.
Posko tersebut sebelumnya menjadi tempat distribusi logistik, ruang istirahat relawan, serta pusat informasi bagi warga. Namun kini, aktivitas di posko harus dibatasi karena genangan air kembali masuk. Kondisi ini tentu menghambat upaya pemulihan yang sedang berjalan.
Bagi masyarakat, banjir susulan ini menghadirkan kembali rasa takut dan trauma. Harapan yang sempat tumbuh perlahan kembali diuji oleh kenyataan bahwa alam belum sepenuhnya bersahabat.
Warga Bertahan di Tengah Keterbatasan
Meski demikian, semangat masyarakat Pidie Jaya untuk bertahan patut diapresiasi. Warga saling membantu membersihkan lumpur, berbagi makanan, dan menjaga satu sama lain. Gotong royong masih menjadi kekuatan utama di tengah keterbatasan.


RQV Foundation melihat langsung bagaimana warga bekerja bersama tanpa mengeluh, meski tenaga dan emosi mereka terkuras. Namun, semangat ini membutuhkan dukungan nyata agar tidak padam di tengah jalan.
Ajakan Kepedulian dan Kolaborasi
Melalui press release ini, RQV Foundation mengajak seluruh elemen masyarakat, lembaga kemanusiaan, mitra perusahaan, serta pihak-pihak terkait untuk turut ambil bagian dalam membantu pemulihan Pidie Jaya. Dukungan yang dibutuhkan saat ini meliputi:
- Penyediaan atau dukungan alat berat (excavator)
- Bantuan operasional untuk pembersihan lumpur
- Rehabilitasi rumah pengajian dan masjid
- Dukungan bagi posko kemanusiaan yang kembali terdampak
RQV Foundation percaya bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali bangunan, tetapi juga mengembalikan harapan dan rasa aman masyarakat.
Komitmen RQV Foundation
Sebagai lembaga kemanusiaan, RQV Foundation berkomitmen untuk terus hadir dan mendampingi masyarakat Pidie Jaya hingga kondisi benar-benar pulih. Pendampingan lapangan, penyaluran bantuan, serta penyampaian kebutuhan mendesak masyarakat akan terus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan.

“Aceh sudah terlalu sering diuji. Namun setiap kali diuji, kita juga selalu melihat bagaimana masyarakatnya bangkit. Tugas kita adalah memastikan mereka tidak berjuang sendirian,” tutup Founder RQV Foundation.
Rumah pengajian yang tertimbun lumpur di Pidie Jaya menjadi saksi bahwa bencana belum sepenuhnya usai. Namun di balik lumpur dan genangan air, masih ada harapan yang bertahan. Dengan kepedulian, kolaborasi, dan aksi nyata, Pidie Jaya dapat kembali bangkit dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.