KISAH SEORANG ANAK YATIM YANG TERPAKSA HARUS MENGGATIKAN POSISI SANG AYAH

KISAH SEORANG ANAK YATIM YANG TERPAKSA HARUS MENGGATIKAN POSISI SANG AYAH

Muhammad solihin  anak perantauan dari kabupaten gowa, Makassar. Lahir pada tanggal 3 semtember 2001. Ia adalah anak yang selalu berusaha dan suka hal yang menantang, ia adalah anak pertama dari emapat bersaudara, lahir dari dari orang tua sederhana ayahnya yang berdarah Aceh dan Ibunya yang berdarah makassar, ia tak tau kisah cinta kedua orang tuanya, kenapa mereka bisa bertemu.

Ayah solihin baru saja meninggil dunia pada tanggal 3 Januari 2020. Semasa hidupnya sang ayah menjalankan perannya dengan sangat hebat ia sangat sangat sayang sekali dengan Ayahnya, tetapi beliau selalu berkerja keras untuk menafkahi keluarga kecilnya, sehingga saat ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia jarang sekali bertemu ayah karena ayanya berkerja di kampung halamannya  jauh dan jarang sekali pulang kerumah. Tetapi ketika ia di duduk di bangku MTS, ia selalu bertemu denga ayahnya karena keluarga mereka di bawa ke Aceh ikut dengan sang ayah kedaerah sang ayah bekerja. Pada saat ia masuk SMA orang tuanya memutuskan untuk Kembali ke Sulawesi, tapi sang ayah masih bekerja di Aceh. Jadi, kami Kembali seperti dulu selalu di tinggal sang ayah merantau untuk bekerja.

Suatu ketika, keluarga ia mendapatkan kabar kalau sang ayah sakit dan pulang ke Sulawesi. Sakitnya pun bikin kami sekeluarga terkejut ternyata sang ayah mengidap sakit yang sakat parah dan konflikasi. Awalnya ayah terkena stroke, Ibu ia pun merwat sangat sabra dan sangat tekun. Ayah pun sembuh dan tak lama ayah pun terkena penyakit lagi yaitu gagal ginjal. Ayah pun haruh menjalankan cuci darah rutin setiap bulannya. Tetapi ayah ia hanya menjalani cuci darah hanya emapat kali saja. tak lama pun sang ayah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Ketika ayah ia sudah tiada, ia sebagai anak pertama harus menggantikan posisi sang ayah. Menjadi tulang punggu keluarganya. Ia sudah banyak sekali pengalam berkerja yang awalnya hanya membantu orang tuanya sampai bekerja di pabrik. Tapi ketika pandemic datang melanda, ia tiba tiba di PHK oleh pabrik, ia berfikir tidak boleh ia menyerah sampai sini. Ia pun bekerja sebagai kuli bangunan, walai pun hasilnya tak banyak tapi hasilnya bisa membantu untuk Ibunya yang bekerja sebagai petani.

Solihin pun sempat berfikir ia tak boleh begini terus suka merokok, begadang setiap hari, dan terkadang ia pulang tengah malam. Ia berfikir makin lama makin tidak nyaman dengan pergaulannya saat itu dan ia selalu jahat dengan tubuhnya. Dan pada akhirnya ia berfikir ‘ayah ia menamakan Namanya Muhammad solihin’ agar ia menjadi anak yang bijak dan sholeh. Ia pun mencari tempat untuk berubah. Pada akhirnya aku bertemu temanku dari Aceh, temannya pun menawarkan agar ia masuk ke ke RQV Indonesia, pada akhirnya ia pun tertarik dan mendaftar. Awalnya ia terkendala oleh biaya, ternya saudaranya mendengar karena ia ingen ke Jakarta, akhirnya saudaranya pun ingin membiayai pemberangkatannya.

Sekarang solihin pun sangat senang bisa ada disini ia bertemu dengan keluarga barunya, dan ia semakin tenang karena kini hari-harinya selalu dengan Al-Qur’an dan teman-temannya selalu mengikat ia dengan hal-hal yang baik.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Need Help? Chat with us