Kisah Syarifah Sang Yatim

Kisah Syarifah Sang Yatim

Perkenalkan nama saya syarifah, usia  12Th  saya berasal dari Kebumen Jawa tengah.  Status saya Yatim,waktu itu ayah meninggal disaat usia saya beranjak 5Th. Saya anak kedua dari 3 bersaudara, ayah saya meninggal karena ….

Semenjak ayah saya meninggal, perekonomian keluarga sangat rendah karena waktu itu ibu belum bisa menggantikan peran sebagai ayah, ibu masih sangat terpukul dengan kepergian ayah sempat sampai satu bulan berturut-turut ibu menangis dan masih tak menyangka.

Setelah beberapa bulan kemudian,ibu pun berpikir jika terus begini bagai mana dengan anak-anak. akhirnya ibu bersemangat untuk bangkit dan menjadi tulang punggung keluarga. Waktu itu ibu bekerja di pabrik kerupuk dan pabrik bulu mata, entah seperti apa ibu membagi waktu untuk bekerja banting tulang dikedua pabrik itu. Mungkin karena ibu melihat perekonomian sangat kritis sedangkan 3 anaknya sudah mulai tumbuh, tak kenal lelah dan tak kenal capek disitulah ibu mengambil keputusan untuk bekerja di kedua pabrik itu hanya karena demi ke-3 anaknya.

Diusia yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah, saya malah di tinggal oleh sosok seorang ayah. Ketika itu Abang, saya dan adik saya waktu itu masih sangat kecil, harusnya tumbuh dengan kasih sayang tetapi kami tumbuh dengan kurangnya kasih sayang dari sok seorang ayah. Kami terkadang iri melihat anak yang seusia kami mempunyai keluarga yang itu dan lengkap. Tak heran ketika kakak saya sekarang tumbuh dengan keegoisannya. Wataknya keras dan berhati jahat, berani membantah dan berani melawan. Ketika kemauannya tidak dituruti dia bisa bersikap semaunya, dan saya yang menjadi pelampiasan amarahnya. Terkadang saya menjadi tempat pelampiasannya, Saya sering dipukuli sampai memar dibadan karena tidak menuruti apa yang di mau dia.

Sekarang saya, ada di RQV Indonesia disini saya menukan sosok seorang Ayah dan menemukan saudara saudara baru dari berbagai daerah. Kini hari hari saya pun sangat Bahagia, apa lagi sekarang di setiap harinya di temani juga dengan Al-Qur’an.

Kisah Agustini Yang Ingin Menghujudkan Impian Almarhum Sang Ayah

Kisah Agustini Yang Ingin Menghujudkan Impian Almarhum Sang Ayah

   Agustini lahir pada tanggal 15 agustus 2000, ia memiliki kembaran yang bernama Agustina. Ia pernah menempu pendidikan di pondok pesantren Ar. Raudhatul Hasanah, selama 4 Tahun ia menempuh pendidikan disana. Awal sebelum Tini menempuh pendidikan di pondok pesantren, ayahnya sempat memberi opsi bahwa salah satu antara Tina atau Tini saja yang menempuh pendidikan di pondok pesantren. Tini tidak mau kalau ia di pisahkan oleh kembarannya, ia juga ingin sekali belajar di pondok pesantren. Apalagi Tina kembarannya belajar Bahasa Arab, Bahasa Inggring dan belajar agama. Pada akhirnya orang tuanya pun setuju untuk memasuki mereka berdua. 

Suatu ketika, ketika ia sedang belajar dikelas ada seorang yang datang tiba-tiba menjemput ia dan kembarannya untuk pulang kerumah. Setibanya di rumah sudah ada tenda, sekerumun orang yang berderai airmata dan ayahnya yang terbujur kaku diatas kasur di tengah rumahnya. Ia pun berfikir kenapa ayah bisa terbujur kaku dihadapnya, padahal dua hari sebelunnya ia dapat kabar ayahnya masih baik-baik saja. Ibunya menghampirinya dan berkata “Tini pasti sakit hatikan liat ini?”. Ia pun menjawab “iya”. Sambil berderai air mata. Ibunya pun berkata lagi “sakitnya hati Tini masih sakit hati Ibu”. Ia pun sempontan berfikir ‘iya yah, Ibu yang selalu ada di samping Ayah saja bisa kuat. Ia jga sempat berfikir bagaimana menjalankan hidup di hari esok tanpa sosok seorang Ayah.  

 

Tini tak patah semangat, ia langsung bangkit dari terpurukan tersebut. Ia pun selalu ingat dengan perkataan Ayahnya. “Dua anak ayah ini harus kuliah bagaimna pun caranya!”. Maka dari itu Ia harus kuliah, karena ayahnya melihat kakak-kakak ia tidak ingin berkuliah. Sesudah ia lulus dari pondok pesantren ia langsung mencari kuliah untuk jenjang selanjutnya. Pada akirnya ia menemukan RQV Indonesia. Ia sangat gembira ketika masuk RQV Indonesia, karena ia bisa Menghafal Al-Qur’an. Ia juga pernah ditanya apa Tini seneng bisa masuk sini? “seneng banget karena Tini bisa dapet keluarga baru dan disini tidak mengfokuskan satu anak tapi semua anak dikembakan” itu jawab Tini. 

Sekarang Tini lebir bersemangat lagi karena hari-harinya lebih dekat dengan Al-Qur’an, dan selalu mendapat hal-hal baru setap harinya. 

Kisah Gadis Piatu berdarah Sunda

Kisah Gadis Piatu berdarah Sunda

Ega Mawarni seorang gadis berdarah sunda, lahir di Bogor,23 Maret 2001. Ia adalah seorang gadis yang sangat ceria, bahkan ia bisa menebarkan keceriannya pada orang lain. Ega sangat aktif ketika masih duduk bangku SMA. Ia juga bergabung di organisasi sekolah yaitu OSIS dan ia mengikuti kegiatan kepramukaan di sekolahnya. Ega juga sangat tertarik dengat Bahasa Arab bahkan ia pernah menekuni belajar Bahasa Arab. 

Ibu-nya meninggal ketika Ia berusia 14 tahun, tepat pada waktu itu ia masih duduk di bangku kelas 9 SMP. Ketika ia mempersiapkan ujian nasional dan perlombaan paskibra saat itu. Ibunya sebelum meninggal mengidap penyakit diabetes, tetapi karena keluarga heran dengan penyakit ibunya mereka berpikir kalau ibunya telah diguna-guna. Disaat ibunya di rumah sakit Ega sangat sabar merawat Ibunya seorang diri. Suatu ketika sang ibu meminta di belikan sesuatu karena lapar. Ega pun tak tegak melihat ibunya kelaparan. Ia langsung bergegas keluar di saat itu sudah hampir tengah malam Ega membranikan dirinya untuk mencari makanan untuk sang ibu. Ketika ia sedang jalan entah apa yang sedang ia pikirkan sampai-sampai ia terjantuh dan hampir tetabrak oleh mobil truk.  

Suatu ketika, di saat ia sedang kedatangan keluarganya kerumah sakit, ia duduk diluar karena ada seorang dokter sedang menangani ibunya. Sambil menunggu ia berbaring dikursi tunggu, tak lama ia mendengar tangisan, tak lama tangisan itu semakain pecah membuat Ega sangat terkejut karna disaat itulah sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Kepergian Ibu-nya menyiratkan pilu yang sangat mendalam, Ia tahu bahwa ayah nya tidak akan tinggal bersama-nya. Selama 7 hari kepergian ibu-nya, deraian air mata yang tak terbendung terus mengalir di pelupuk netra. Banyak saudara-saudara dari ibu-nya sendiri mengajak untuk tinggal di rumah mereka, tapi ega enggan menerima karena ia masih tak percaya akan kepergian ibu-nya. 

Setelah di bujuk akhirnya ega mau tinggal bersama adik kandung dari ibu-nya, ia sering menyebutnya dengan sebutan (bibi). Betapa pilunya waktu itu, sering terlintas dalam benak pikirannya “Aku yang terlalu lemah,ataukah jalan yang aku lalui teramat terjal”. Luka,hampa bahkan nestapa terus mengiringi perjalanan hidupnya. Karena kita tidak pernah tahu, bagaimana susahnya membalut luka dengan sebuah tawa. Namun, yang kita tahu pasti bahwa setiap manusia pernah berada di titik terendah dalam hidup. Kini pada akhirnya ega pun terus berjuang memunguti keeping-keping percaya diri yang sempat berceceran. 

Ia terus menjalani hidup senetral dan serealistis mungkin dan ia berkeyakinan tinggi bahwasannya ALLAH Swt. Menyayanginya dan di balik semua problematika hidup yang ia hadapi pasti ada hikmah yang tidak akan bisa di nilai oleh akal pikiran. Tanpa di ragukan keyakinan yang sempat ia tanamkan pada dirinya menjadi kenyataan, banyak orang-orang baik yang datang bukan hanya sekedar menghampiri tetapi mereka berbondong-bondong ingin menganggap ega sebagai keluarganya sendiri. 

Dengan kuasa-nya Allah sering membuat cara yang begitu unik untuk merayu hambanya yang bersedih, Ia pun  bangkit dan mengubur semua keterpurukan yang pernah ia alami. Setelah lulus MA dia sempat ngajar pramuka di beberapa sekolah, karena memang dia ada skil di pramuka. Tapi karena covid sekolah nya tidak di perbolehkan untuk melakukan kegiatan, sementara itu dia ngajar di TK saudaranya, itu pun jaraknya tidak jauh dari rumah tempat ia tinggal. Setelah 1 bulan ia ngajar di TK, tiba-tiba pimpinan TK mengajaknya ngobrol. Beliau memperkenalkan dan mengajak ega untuk gabung ke RQV INDONESIA. Kebetulan memang anaknya lagi mengemban ilmu di sana, karena ada hubungan saudara jadi ia di suruh ke sana nemenin anaknya. 

 

Sekarang Ega sudah mengembat ilmu di RQV Indonesia, walau pun sebelum masuk sini banyak sekali rintangannya, seperti keluarganya banayak sekali yang tidak setuju. ia masuk RQV Indonesia. Lama-kelamaan seiring berjalannya waktu dan ikhtiar dari Ega keluarga pun bnayak yang menyetujui Ega masuk RQV Indonesia. Ega pun sekarang menemukan keluarga barunya di RQV Indonesia, kini hari-harinya lebih bahagia lagi apa lagi sekarang aktifits Ega lebih sering dengan Al-Qur’an. 

  

Kisah Seorang Anak Yang Merantau Dari Usia 12 Tahun

Kisah Seorang Anak Yang Merantau Dari Usia 12 Tahun

Rico candy ramadhan siregar kelahiran riau, 23 September 2008. tapi ia memiliki marga Batak dari alm sang ayah. Rico sapaan hangatnya, Rico adalah anak yang sangat ceria. Ia memiliki hobi bermain bola dan membaca komik, Rico memiliki cita-cita ingin menjadi pilot yang hafal Al-Qur’an.

Rico ditinggal sang ayah dari usia 5 tahun ketika itu sang ayah sakit. Rico tidak tau sang ayah mengidap penyakit apa? Yang iya tau sang ayah hanya sakit parah. Ketika ayah Rico sakit banyak teman-teman sang ayah simpanti untuk membantu. Ibu Rico menggantikan posisi sang ayah menjadi sosok ayah dan ibu sekaligus untuk Rico.

Di usianya yang masih sangat belia ia sudah berani merantau dan jauh dari dekapan seorang Ibu. Rico sempat menjalani pendidikan pesantren 1 tahun yang lalu, tetapi ia tidak mau lagi melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren. ia mengalami trauma berat karena Rico pernah menjadi korban bullying oleh kakak kelasnya. Rico merasakan sekali senioritas dan bullyan dari kakak kelasnya. selalu di datangi kakak kelasnya dengan beralasan ingin meminjam uang, otomotis setap harinya uang jajan Rico berkurang. Bahkan uang yang dipinjam pun tak pernah di kembalikan. Entah apa yang ada di pikiran kakak kelanya terhadap dirinya, seperti ada dendam pribadi tapi Rico tak pernah membalas perbuatan kakak kelasnya. Hal yang selalu di ingat Rico ketika di bully yaitu ketika ia tidak dapat target hafalannya. Rico ditarik oleh kakak kelasnya ke suatu gubuk dan Rico dipukul dengan tangan kosong oleh kakak kelasnya, itu hal yang selalu teringan oleh Rico.

Sekarang Rico berada di RQV Indonesia untuk menggapai cita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an. Ia senang bisa masuk RQV Indonesia karena hari-harinya kini selalu bersama Al-Qur’an, kini ia lebih senang mendapatkan kakak yang lebih baik dan merasa semua yang di lingkungan Rico adalah keluarga.

SEORANG GADIS YANG DITINGGAL ORANG TUANYA SEJAK BERUSIA 9 TAHUN

SEORANG GADIS YANG DITINGGAL ORANG TUANYA SEJAK BERUSIA 9 TAHUN

Nur Rambe seorang gadis berusia 19 tahun yang merantau dari Labuhan Batu ke daerah Jakarta. Rara sapaan akrabnya, Rara adalah seoranga gadis yang sangat Tangguh dan kuat. Ketika ditanya “kenapa sih mau merantau jauh dari rumah?”. Gadis itu menjawab “imam syafi’i pernah berkata jika kamu ingin sukses maka  merantau lah”.  Itu lah alasan terkuat Rara untuk untuk merantau sejak ia duduk di bangku SMP.

Sejak usianya 9 tahun Rara sudah yatim piatu. Almarhum kedua orang tuanya adalah seorang petani semasa hidupnya. Mereka suka sekali pergi kesebrang sungai untuk memperjual belikan hasil perkebunannya. Dagangannya di titipkan kepada kakak sang ayah, karena beliau tinggal di sebrang sungai  bahkan sang ayah, ketika sedang kemarau pergi kesebrang tidak memakai perahu.

Suatu ketika, ayah, ibu dan kakaknya Rara pergi menyebrangi sungai ingin menjual hasil panennya, ketika ditengah-tengah sungai perahu itu terbalik karena terkena ranting kayu. Semua sayuran yang mereka bawa hanyut, ayah, ibu dan kakanya Rara pun ikut hanyut. Di hari itu juga Rara mendengar kabar sang ayah tenggelam di sungai. Awalnya Rara tenang mendengar kabar itu kerana tau sang ayah mahir dalam berenang. Seketika Rara kaget karena bukan sang ayah saja yang tenggelam disungai ternyata sang ibu dan seorang kakak Rara pun ikut tenggelam.

Di hari pertama pencarian mereka tidak ditemukan oleh tim sar. Hari ketiga barulah ditemukan jasadnya secara berurutan awalnya ketika asar jasad sang kakak yang di temukan, ketika magrib jasad sang ibu, dan yang terakhir ketika isya barulah jasad sang ayah yang ditemukan.

Saat ini Rara mengikuti pelatihan di rumah  Qur’an Yatim RQV Indonesia. Ia memulai aktifitasnya mulai dari jam 02.00 dini hari, yang ia lalukan adalah tahajud dan lanjut menghafal al-qur’an. Hari harinya kini lebih berwarna lagi karena ia sakarng lebih dekat dengan al-qur’an.

Ketika ditanya seneng tidak kamu masuk ke RQV Indonesia, ia menjawab “ seneng sekali bisa masuk RQV Indonesia karena bisa dapet keluarga baru”.

Rara juga tidak mudah bisa masuk RQV Indonesia karena para kakaknya yang sangat sayang sekali kepadanya. Sampai-sampai bingung untuk memberikan ijin kepada Rara merantau.

Sepenggal Kisah Haru Gadis Yatim Keturunan Betawi,Bugis,Chinese Asal Jakarta

Sepenggal Kisah Haru Gadis Yatim Keturunan Betawi,Bugis,Chinese Asal Jakarta

Adara izellah Irfan, gadis belia yang berkulit putih campuran betawi,bugis, chinesse. Terlahir dari keluarga yang muallaf dan bertempat tinggal di Desa Pondok Labu, Cilandak Jakarta Selatan. Dara sapaan akrabnya, ia putri pertama dari bapak Irfansyah dan Ibu Soraya. Ia seorang gadis yang friendly,tak heran ketika mudah akrab dengan siapa pun.

Setiap pagi hingga larut malam Adara harus menahan pedihnya kesendirian. Kala itu, usianya baru lima tahun . Ia harus ditinggal berteman kesunyian di tengah keramaian dan keganasan kota Jakarta. Setiap hari Ibunya pergi pagi pagi sekali untuk bekerja. Adara kecil dititipi pesan pesan kehidupan setiap pagi sebelum ibunya pergi bekerja dan harus pulang larut malam demi menyambung kehidupan.

Tak jarang air mata sang Ibu jatuh karena mendapati Adara harus berjuang mengambil makanan sendiri, mengambil air sendiri bahkan Adara tak jarang berinsiatif untuk mengangkat pakaian sementara usianya belum genap enam tahun . Keyakinan akan pertolongan Tuhan tertanam kuat didalam hati Ibunya. Serangkaian Pahitnya kehidupan membuat Adara tampil mandiri dan tegar di usia

emas Adara yang membutuhkan kasih sayang.

Hidup Adara berubah drastis semenjak ayahnya meninggal sepuluh tahun silam. Adara yang kala itu masih berusia lima tahun tidak mengerti betul bagaimana cara kuat ditengah kehilangan tulang punggung keluarga. Di wajah polosnya masih saja tersimpan ketegaran karena masih ia lihat ibu ada di samping dan terus memeluknya.

Tepat tahun 2011, Almarhum Ayah Adara menghembuskan nafas terakhir kalinya karena sakit meningitis yang idapnya. Ibu Adara sangat terpukul karena Adara kecil harus berjuang tanpa kasih sayang sang ayah saat itu. Masa kecilnya harus dihabiskan dengan kerikil kerikil tajam kejamnya kehidupan di Kota Jakarta.

Tapi, Ibu nya sadar , ini bukan akhir dari segalanya. Hidup harus terus di lanjutkan walau dengan segala kesakitan.

Adara Izzelah Irfansyah, adalah anak kandung dari Bapak Welfi Irfansyah Asiddiq dan Ibu Andi Soraya. Adara adalah gadis keturunan Tionghoa. Ia memiliki nama sapaan Adara Afung yang artinya Kemerah merahan. Semenjak kecil Adara telah diperkenalkan dengan adat almarhum ayahnya yang memang keturunan Tionghoa. Ayah Adara telah lama menjadi mualaf . Kakek Adara memutuskan masuk islam setelah menikah dengan neneknya yang bersuku Betawi.

Adara kini genap berusia lima belas tahun, di usia remaja nya ia telah banyak menjalani kehidupan dengan segala cerita pahit manisnya. Tempaan sang Ibu sejak kecil membuat Adara kini tampil sebagai gadis yang visioner dan ambisius meraih masa depan.

Gadis asal Jakarta yang lahir tanggal 7 Januari 2006 itu, bercita cita menjadi seorang psikolog professional. Ia optimis dapat mengejar impiannya karena keyakinan pada doa dan dukungan penuh dari Ibunya. Menurutnya, menjadi psikolog akan membuatnya berpeluang membantu banyak orang . Terlebih anak anak yang kehilangan kasih sayang.

Adara punya berjuta kisah perjuangan dengan sang Ibu yang hingga kini kemesraan keduanya masih sangat terlihat. Saling mendukung satu sama lain adalah budaya yang lama di bentuk di keluarga kecilnya.
Termasuk keputusan Adara untuk bergabung bersama Oganisasi Yatim Indonesia (OYI) yang bertempat di Kota Bekasi. Disana , ia belajar karakter dengan landasan kitab suci Alqur’an. Adara memutuskan untuk bergabung karena ia percaya di tempat baru ini segala cita cita besarnya bisa di jembatani.

Adara tampil percaya diri semenjak bergabung di Rumah yatim Bekasi . Rekam sejarah Adara yang tercatat pernah menjadi perwakilan terpilih menjadi dokter kecil sejak sekolah dasar dan deretan prestasi Adara lainnya membuat Adara tampil percaya diri. Belum lagi Adara yang juga telah belajar bela diri Taekwondo yang membuat ia terlihat siap sedia dengan segala kondisi.

Adara ingin memiliki banyak keahlian dan kemampuan agar bisa membantu orang lebih banyak. Sejak kecil hingga sekarang sesiapa yang mengenal Adara akan berakhir pada tuturan kebahagian. Adara sejak kecil telah di titipkan pesan oleh Ibunya agar jangan pernah merasa sombong . Karena sombong adalah sifat yang sangat jelek ‘. Ibunya berpesan dengan filosofi mendalam tentang Padi, ‘‘Bahwa semakin tinggi Padi tumbuh dan Berisi, Padi semakin merunduk kebawah. Dan Ibunya menambahkan bahwa Hidup harus Berdiri tegak seperti Pohon , walaupun dilempari batu oleh orang orang, diterpa angin kencang, tapi tetap kokoh berdiri karena sudah didasari dengan akar yg kuat dari dasarnya. Itulah pesan ibunya yang sampai saat ini di simpan baik oleh Adara.

Adara optimis dan percaya . Ketegaran, kesabaran dan ambisi akan membawa seseorang pada jalan kesuksesan. Tidak peduli apapun kondisinya. Walau kehilangan sebelah sayapnya . Ia masih bisa terbang lebih jauh dengan titipan kekuatan dari Tuhan.

 

GADIS YATIM DARI LABUHAN BATU

GADIS YATIM DARI LABUHAN BATU

Nur Aira Tambak, gadis kecil berusia 12 tahun yang merantau dari Medan ke Jakarta untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an di RQV Indonesia. Gadis kecil yang biasa disapa Aira itu merupakan seorang yatim. Ayahnya meninggal disaat usianya masih 6 tahun, usia dimana seorang anak perempuan sedang dekat-dekatnya dengan seorang ayah. Tapi tidak dengan Aira, di usianya yang ke-6 tahun, dia harus kehilangan sosok seorang ayah yang sangat dia sayangi. Begitu pahitnya alur kehidupan dunia ketika ditinggalkan seorang ayah, itu yang dirasakannya pada saat itu. Melihat teman-teman seusianya memiliki keluarga yang lengkap, bisa berkumpul bersama, dan bisa mengadukan perasaan ke ayahnya membuat hati kecil Aira menangis melihat pemandangan itu. Rasanya ingin sekali dia bisa memeluk dan bercerita dengan ayahnya.

Foto Kenangan Ayah dan Ibu Aira

Aira merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara. Ibunya adalah seorang Ibu Rumah Tangga, untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan pendidikan anak-anaknya dia hanya mengandalkan uang pensiunan dari suaminya, karena dia tidak bekerja. Aira sangat menyayangi ibunya, baginya ibu adalah satu-satunya harta yang paling berharga dan yang harus dijaga baik-baik. Ibu Aira sangat kuat menahan semua masalah yang menimpanya, namun Ibunya tidak mau memperlihatkan kepada Aira, karena Ibu tidak mau membuat Aira menjadi sedih melihat dirinya bersedih.

Sebelum keberangkatan Aira dan Ibunya ke Jakarta, mereka bingung karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli tiket pesawat, tidaklah sedikit uang untuk membeli tiket pesawat dari Medan ke Jakarta. Tapi, mereka bersyukur, masih ada keluarga yang mau membantunya untuk membelikan mereka tiket pesawat. Sehingga Aira bisa berangkat ke Jakarta dan Ibunya bisa mendampinginya ke Jakarta yaitu ke Rumah Qur’an Yatim RQV Indonesia.

Saat ini yang ingin Aira lakukan adalah membahagiakan orang tuanya dengan menghafal Al-Qur’an. Karena Aira tau keutamaan penghafal Al-Qur’an adalah dapat memberikan mahkota dan jubah kebanggaan untuk kedua orang tuanya di Surga-Nya. Itu yang sangat dia harapkan, bisa melihat ayah dan ibunya tersenyum karenanya di Surga-Nya. Karena ayahnya pernah mengatakan kepada anak-anaknya “Diantara kalian berlima, pasti adik kalian yang yang akan membanggakan kita semua”, dan Aira ingin mewujudkan ucapan Ayahnya. Aira ingin keluarganya bangga dan bahagia memilikinya. Dan Aira akan selalu ingat pesan ibunya sebelum kembali ke Medan “Jangan putus asa, apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, Jangan berlarut-larut dalam kesedihan karena kesedihan itu bukan untuk diratapi, tapi yang haruus dilakukan adalah berusaha”.

Kegiatan Aira Menghafal Al-Qur’an

Di RQV Indonesia Aira tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat aktif dan semangat. Aira telah menemukan keluarga baru di RQV Indonesia, bahkan Aira juga mendapatkan sosok Ayah yang sangat menyayangi dan memperhatikannya yaitu Abi Azmi (Presiden RQV Indonesia. Aira kini merasa memiliki keluarga yang lengkap dengan hadirnya sosok seorang Abi di hidupnya. Dan Aira juga tidak merasa sendiri lagi karena ternyata ada juga anak seusinya di RQV Indonesia yang juga kehilangan seorang Ayah tapi, mereka tetap semangat menjalani Hidup. Sehingga itu menjadi motivasi Aira untuk selalu semangat dan berkembang menjadi lebih baik lagi.

 

ULANG TAHUNKU YANG BERBEDA

ULANG TAHUNKU YANG BERBEDA

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Tepat 9 tahun yang lalu, ibuku melahirkanku kedunia. Aku sangat bahagia hari ini, karena ini adalah pertama kalinya di hari kelahiranku aku merasakan begitu banyak orang yang menyayangiku dan peduli terhadapku. Perasaan yang belum pernah aku dapatkan di 18 Juni sebelum-sebelumnya.

Foto bersama Pelatih RQV Indonesia

Aku adalah seorang yatim piatu dari Bekasi. Ayahku meninggal pada saat usiaku 8 bulan, usia dimana aku belum bisa merekam bagaimana bentuk wajahnya, suaranya, dan bagaimana rasa kasih sayang darinya. Sedangkan Ibuku meninggal disaat usiaku 6 tahun, usia yang seharusnya masih mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, mendapatkan perhatian lebih, dan diajarkan banyak hal darinya. Namun di usiaku 6 tahun, aku sudah kehilangan dua sayap ku. Membuat ku kesulitan untuk terbang menggapai semua mimpiku. Jangankan untuk terbang, berjalan saja aku terseok-seok. Tidak ada yang mengarahkan kehidupanku, sehingga aku harus menentukan jalan hidupku sendiri.

Foto Kecilku

Semenjak kedua orang tuaku pergi, aku hidup berpindah-pindah kepada siapa saja keluarga yang mau merawatku. Aku bersyukur masih ada beberapa keluargaku yang peduli denganku walaupun aku belum bisa merasakan kasih sayang yang sama seperti kedua orang tua ku. Mereka hanya memenuhi kebutuhan primerku, tapi belum mampu memenuhi kebutuhan batinku. Aku sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih untuk memperbaiki sayapku, agar aku bisa mencoba terbang untuk menggapai mimpiku.

Sampai pada suatu hari, aku bertemu dengan teman dekat ibuku. Beliau sangat prihatin dengan keadaanku yang tidak terurus. Beliau yakin bahwa aku merupakan anak yang hebat jika menemukan lingkungan yang sesuai. Hingga pada akhirnya tanggal 08 April 2021 aku resmi diantar untuk belajar di RQV Indonesia. Aku sangat bahagia dan semangat ketika aku menginjakkan kakiku di Rumah Qur’an Tahfidz RQV Indonesia. Karena aku merasakan banyak kasih sayang dan kepedulian di tempat ini. Dan ternyata bukan hanya aku saja, tapi ada banyak orang yang kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Saat ini aku dan mereka bangkit karena kami telah menemukan kebutuhan lahir dan batin kami di RQV Indonesia.

Foto bersama Sahabat Ibuku

Terimakasih untuk semua orang yang sudah memberikan rasa kasih sayang, perhatian, dan kepeduliannya kepadaku. Di hari ulang tahunku ini, aku mendapatkan hadiah sayap baru yang membuatku mampu terbang tinggi untuk menggapai cita-citaku. Hadiah yang sangat aku impikan dari dulu untuk bisa meraih cita-citaku.

Ayah.. Ibu.. Sekarang aku sudah bisa terbang lagi, kalian jangan khawatir ya. Aku akan segera menggapai mimpiku, aku akan persembahkan Mahkota dan Jubah Kebanggaan untuk kalian. Tunggu aku di Surga-Nya ya ayah, ibu. Aku sangat mencitai kalian berdua sampai akhir usiaku.

Need Help? Chat with us