Kisah Qorun Yang Serakah

Kisah Qorun Yang Serakah

Qorun di kisahkan pada Al-Qur’an surah Al-Qasash ia adalah sorang hamba yang merupakaan kaum dari Nabi Musa AS. Ia adalah salah sorang hamba yang taat, Qorin tinggal dengan istri dan anak-anaknya. Qorun sangat kesulitan untuk memberi makan anak-anaknya hingga terkadang mereka tidak makan samapi tiga hari bahkan lebih.

Suatu ketika Nabi Musa AS menghampiri Qorun, Nabi Musa AS menyakan kabar dan kondisinya. Qorun menceritakaan keluh kesahnya terhadap Nabi Musa AS, seketika Nabi Musa AS merasa iba lalu di saat itu juga beliau berdo’a, meminta agar Qorun dan keluarga diangkat derajatnya dan selalu di permudah segala urusannya.

Qorun pun langsung menekuni kerajinan yang telah di ajarkan oleh Nabi Musa AS, hasil kerajina ia pun laku keras seketika Allah pun memberi rezeki yang sangat berlimpah padanya. seiring berjalannya waktu harta ia makin berlimpah, tetapi ia bukannya semakin dekat dengan Allah malah semakain jauh dan sombong. Seperti di dalam surat Al-Qasash ayat 76, ia di beriharta berlimpah oleh Allah sampai-sampai, kunci harta tersebut sangat berat  meskipun orang yang sangat kuat yang mengangkatnya.

Pada suatu ketika ada seseorang suruhan Nabi Musa AS mendatangi orang-orang kaya pada zaman itu, untuk meminta menyisihkan sebagian hartanya untuk zakat.  Qorun yang sombong menjawab, “Sesungguhnya aku diberi harta karena ilmu yang kumiliki.” Tak hanya itu, kemudian Qorun pun menunjukkan kekayaannya dengan iring-iringan pawai. Melihat Qorun, orang-orang yang menghendaki kesenangan dunia berharap bisa kaya seperti dirinya.

Melihat Qorun yang sombong, akhirnya Allah menenggelamkan Qorun beserta hartanya ke dalam bumi. Tidak ada baginya suatu golongan apa pun yang bisa menolongnya dari azab Allah.

Kisah Qorun memberi kita pelajaran bahwa harta yang banyak belum tentu mampu membawa kita kepada keberkahan apabila tidak disyukuri dan dibayarkan zakat, justru bisa membawa kita kepada azab yang sangat pedih.

Meneladani Kisah Nabi Ismail

Meneladani Kisah Nabi Ismail

Seperti diketahui, sejak kecil kita pasti pernah mendengar berbagai macam kisah nabi dan rasul yang mempunyai sifat kebaikan dan keteladanan masing-masing. Terutama kisah 25 nabi dan rasul yang diberikan berbagai macam mukjizat oleh Allah SWT. Mulai dari Nabi Adam sebagai khalifah pertama, hingga Nabi Muhammad sebagai nabi penutup atau juga disebut dengan Khatamun-Nabiyyin.

Masing-masing nabi mempunyai pengalaman yang berbeda-beda pada masanya. Meskipun begitu, semua nabi memiliki sifat baik dan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap ujian yang diberikan Allah. Pada setiap kisahnya, umat muslim dapat memetik kebaikan dan menjadikannya sebagai suri tauladan dalam menjalani kehidupan di dunia.

Salah satu kisah nabi yang mempunyai pesan mendalam dan penuh kebijaksanaan adalah kisah Nabi Ismail. Seperti diketahui, Nabi Ismail merupakan anak dari Nabi ke-6 utusan Allah, yaitu Nabi Ibrahim. Dalam kisahnya, Nabi Ismail beserta Ayahnya mengalami berbagai macam peristiwa yang besar dan mengharukan. Salah satunya peristiwa penyembelihan Nabi Ismail yang diperintahkan oleh Allah.

Dalam hal ini, Allah menguji ketaatan Nabi Ibrahim yang harus mempertaruhkan rasa cinta dan sayangnya kepada sang anak. Hingga peristiwa ini menjadi asal mula seruan Allah bagi seluruh umat muslim untuk melaksanakan ibadah berqurban.

 

 

 

 

 

 

Kisah Kelahiran Nabi Ismail

Diceritakan bahwa Nabi Ibrahim dengan istrinya yang bernama Sarah, belum juga dikaruniai seorang anak. Nabi Ibrahim pun terus memanjatkan doa kepada Allah, untuk dianugerahkan seorang anak yang saleh dan taat kepada-Nya. Suatu waktu, Sarah pun mengetahui apa yang diharapkan oleh suaminya tersebut. Namun ia tidak dapat mewujudkan keinginan suaminya karena dia memiliki kondisi rahim yang mandul.

Kemudian, Sarah mendapatkan satu rencana untuk mendekatkan Ibrahim dengan budaknya yang bernama Hajar untuk menikah. Sarah pun berharap, dengan adanya pernikahan tersebut Nabi Ibrahim bisa mendapatkan seorang anak yang saleh dari perkawinannya dengan Hajar. Kemudian pada satu waktu, Sarah mengutarakan rencana tersebut kepada sang suami. Kemudian Nabi Ibrahim berkata, “Kita harus menanyakannya terlebih dahulu kepada Hajar, apakah dirinya setuju atau tidak.”

Lalu Sarah dan Ibrahim menanyakan langsung kepada Hajar, dan Hajar menyetujuinya. Singkat cerita, Nabi Ibrahim dan Hajar menikah, dan Hajar akhirnya dapat mengandung anak dari suaminya. Kemudian, setelah mengandung selama 9 bulan, Hajar melahirkan seorang anak yang dinamakan Ismail. Dikatakan bahwa kelahiran Nabi Ismail ini merupakan jawaban dari doa yang selalu dipanjatkan Nabi Ibrahim kepada Allah. Bukan tanpa alasan, ternyata istri dari Nabi Ibrahim mempunyai kondisi rahim yang mandul sehingga dirinya tidak dapat mengandung seorang anak.

Nabi Ismail dan Ibunya di Makkah

Beberapa waktu setelah kelahiran Ismail, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk pergi membawa Hajar dan anaknya ke Makkah. Tidak berpikir lama, Nabi Ibrahim memenuhi perintah Allah tersebut dengan membawa Hajar dan Ismail pergi melewati gurun dan berhenti di dekat tempat yang saat ini berdiri bangunan Ka’bah.

Tidak lama setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim kemudian pergi meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat tersebut untuk kembali ke Syam. Hajar pun seketika memegang baju Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? Apakah kamu hendak meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang atau sesuatu apapun di sini?” Hajar terus mengulangi pertanyaannya, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Ibrahim.

Bahkan Ibrahim tidak menoleh sedikit pun untuk menanggapi perkataan istrinya tersebut. Hingga akhirnya Hajar berkata, “Apakah Allah memerintahkan kamu atas semua ini?” Lalu seketika Ibrahim menjawab “Ya.” Dan Hajar pun bisa menerimanya dengan berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Bukit Shafa dan Marwah

Kisah Nabi Ibrahim dan Hajar terus berlanjut. Sejak mendapatkan jawaban itu, Hajar segera kembali ke tempatnya semula bersama Ismail, sedangkan Ibrahim kembali melanjutkan perjalanan menuju Syam. Dalam perjalanannya, Ibrahim kemudian menghadap Ka’bah dan mengangkat kedua tangannya lalu berdoa kepada Allah.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 37)

Di sisi lain, Hajar kembali menemui Ismail dan mulai menyusuinya. Selama beberapa hari Hajar hidup dengan persediaan minum yang telah dibawanya. Namun tiba di suatu hari, persediaan air itu semakin lama habis. Ia menjadi haus, begitu pula dengan bayinya. Ismail kecil pun hanya bisa menangis saat ia kehausan. Hajar hanya bisa memandangnya dengan rasa kasihan. Karena tidak tahan, Hajar kemudian pergi meninggalkan Ismail untuk mencari bantuan.

Sampailah Hajar di bukit Shafa, sebuah gunung yang tidak jauh dari keberadaannya semula bersama Ismail. Hajar berdiri di bukit itu dan menghadap ke lembah untuk mencari tanda-tanda keberadaan manusia lain yang bisa membantunya. Namun, ia tidak melihat satu orang pun yang berada di sana. Kemudian Hajar memutuskan untuk pergi ke lembah hingga sampai di bukit Marwah. Dia mencoba berdiri dan mencari pertolongan, namun tetap saja tidak ada manusia lain yang terlihat di sana. Bahkan Hajar melakukan penjalanan dari Shafa ke Marwah hingga tujuh kali, namun masih saja nihil.

Saat Ia berada di puncak Marwah, ia mendengar sesuatu. Kemudian ia berusaha untuk diam dan kembali mendengarkan suara itu dengan seksama. Dan suara itu muncul lagi, “Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud memberikan bantuan.”

Ternyata suara itu merupakan suara dari malaikat Jibril yang berada di dekat sumber air zam-zam. Kemudian Jibril mengambil air dengan sayapnya hingga air keluar memancar. Akhirnya Hajar dapat minum dan bisa kembali menyusui bayinya.

Kemudian malaikat Jibril berkata, “Janganlah kamu takut ditelantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”

Kedatangan Suku Jurhum

Kisah Nabi Ismail dan ibunya, Hajar yang tinggal di Makkah masih terus berjalan. Hingga datanglah sekelompok Suku Jurhum yang datang dari bukit Kadaa’. Dari bagian bawah Makkah, mereka melihat sekelompok burung yang berputar-putar di suatu wilayah. Mereka berharap, burung yang berputar-putar itu merupakan tanda adanya sumber air. Lalu mereka mengirimkan dua orang untuk mendatangi lokasi burung tersebut, dan benar ternyata burung-burung tersebut mengelilingi sumber air. Lalu dua orang dari suku Jurhum itu kembali dengan cepat untuk memberitahukan kelompoknya.

Setelah itu, mereka bersama-sama mendatangi sumber air tersebut. Saat itu, Hajar sedang duduk di dekat sumber air, lalu salah satu dari suku Jurhum berkata, “Apakah kamu mengizinkan kami untuk singgah bergabung denganmu di tempat ini?” Lalu Hajar menjawab, “Ya, boleh. Namun kalian tidak berhak memiliki air.” Kemudian mereka pun menyepakatinya.

Hajar pun senang dengan keberadaan keluarga Jurhum. Dirinya tidak merasa kesepian lagi, dan mereka pun tinggal bersama dengan rukun. Bahkan Ismail mulai belajar bahasa Arab dari keluarga Jurhum. Ismail pun tumbuh menjadi anak yang pintar dan berakhlak mulia seperti yang diajarkan ibunya. Hari demi hari berlalu, Ismail pun tumbuh menjadi seorang dewasa. Saat inilah ia akan bertemu dengan Ayahnya, Nabi Ibrahim.

Mimpi Nabi Ibrahim dan Perintah Berqurban

Kisah Nabi Ibrahim yang sudah dewasa bersama Ibunya, kemudian bertemu dengan Ayahnya Ibrahim yang datang menemui untuk melepas rasa rindu. Nabi Ibrahim kemudian bisa menjalani hari bersama anaknya tercinta. Lalu pada suatu hari, Ibrahim bermimpi bahwa ia menyembelih putranya, Ismail. Setelah ia bangun, ia menyadari bahwa mimpi itu merupakan petunjuk dari Allah.

Kemudian, Ibrahim suatu hari mendatangi anaknya lalu menyampaikan mimpi yang dialaminya. Dan Ibrahim berkata kepada Ismail, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS As Shaafaat : 102)

Kemudian, Nabi Ibrahim pun membawa Ismail ke Mina. Setelah sampai di sana, Ibrahim mengikat kain di atas muka anaknya agar ia tidak dapat melihat raut wajah sang anak, yang bisa membuatnya terharu. Keduanya pun telah mempasrahkan diri dan menyerahkan diri kepada Allah. Setelah itu, Ibrahim mendengar seruan Allah, “Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.”

Tidak lama setelah itu, malaikat Jibril membawa kambing besar dan meletakkannya sebagai pengganti Ismail yang akan disembelih. Dari peristiwa inilah kemudian turun perintah Allah bagi seluruh umat muslim untuk menunaikan kewajiban berqurban.

Apa yang harus kita teladani dari kisah tersebut?

  1. Melaksanakan semua perintah Allah SWT meski terasa sangat berat sekalipun
  2. Meyakini bahwa semua keputusan Allah SWT adalah yang terbaik dan mengandung hikmah di baliknya
  3. Patuh dan taat kepada kedua orang tua
  4. Sabar, tabah dn ikhlas dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT
  5. Tawakal atau berserah diri atas semua ketetapan Allah SWT

 

 

Kisah Seorang Mujahidah Berkuda Hitam

Kisah Seorang Mujahidah Berkuda Hitam

Perempuan di masa Nabi tidak hanya bertanggung jawab atas urusan dapur saja. Akan tetapi mereka juga aktif mencari ilmu, menghafal Al-Qur’an dan Hadis, mengajar cara baca tulis hingga bersyair. Dalam perang pun mereka ikut andil. Entah itu sebagai perawat, dokter, pemasok bekal, penyemangat bahkan ada pula yang langsung terjun di medan perang sambil mengendarai kuda dan memegang panah atau tombak. Salah satu di antaranya adalah Khaulah binti Azwar bin Aus al-Sa’adi.

Khaulah binti Azwar dicatat sejarah sebagai pahlawan wanita dengan kemampuan bertempur di atas rata-rata. Saking populernya, Al Waqidi seorang pakar sejarah perang Islam mengkhususkan satu bab dalam Futuh Syam untuk mengabadikan kisah perjuangannya.

Dalam kitab tersebut dapat kita jumpai banyak kisah heroik tentang beliau. Namun ada satu cerita yang paling menarik yaitu saat beliau berjuang sendirian menghadapi batalion-batalion Romawi demi menyelamatkan saudaranya yang ditangkap dan ditawan musuh.

Peristiwa ini terjadi di perang Ajnadayn. Saat itu para pasukan muslim sibuk mengasah pedang dan berbincang mengenai strategi apa yang akan mereka terapkan. Tiba – tiba, sesosok misterius sambil mengendarai kuda melesat dihadapan mereka.

Pakaiannya serba hitam lengkap dengan penutup wajah. Tidak ada yang tampak dari anggota tubuhnya kecuali dua bola matanya. Dengan begitu lihai dia pacu kudanya. Di lengan kanannya tampak ada sebilah tombak. Sepertinya dia akan bertempur.

Melihat kejadian tersebut, mereka terheran – heran. Khalid bin Walid sang panglima tertinggi berujar : “Jika saja saya tau, siapa sebenarnya penunggang kuda ini. Demi Allah, pasti dia adalah anggota pasukan berkuda”. Lalu Khalid dan pasukannya mengikutinya dari belakang. Benar saja, sosok berkuda ini menuju markas pasukan Romawi.

Tanpa mengurangi kecepatan laju kudanya, dia merangsek ke jantung pertahanan musuh. Menyergap dan menerjang barisan tentara dengan sangat cepat. Tidak sampai satu putaran, ujung tombaknya telah dipenuhi darah. Sejumlah personil musuh tewas akibat serangan tersebut.

Selang beberapa saat kemudian, untuk kedua kalinya dia kembali menantang maut, memacu kudanya lagi maju menembus barisan musuh tanpa rasa ragu dan takut sedikitpun. Para prajurit muslim yang dari tadi memperhatikannya hanya bisa terdiam, kagum dengan apa yang mereka lihat.

Rafi’ bin Amirah dan orang – orang disekitarnya mengira dia adalah sang pedang Allah, Khalid bin Walid. Ia berkata :”Tak ada orang yang bertempur seperti ini, kecuali Khalid bin Walid”. Dugaan mereka salah, ternyata Khalid ada diantara mereka.

“Siapa penunggang kuda yang maju mendahuluimu ? Dia benar benar telah mengorbankan jiwa dan raganya”, ujar Rafi. Khalid menjawab,”Demi Allah aku pun tidak tau, aku takjub dengan kualitas yang dia tunjukan”.

“Wahai Amir dia membenamkan dirinya di antara tentara – tentara Romawi, menusuk dari kiri maupun kanan”, ucap Rafi’ tak berhenti memuji sosok hero berpakaian serba hitam itu.

Kemudian Khalid memberikan komando : “Wahai kaum muslimin bertempurlah kalian semua ! Bantulah si pelindung agama agama Allah”. Mereka kemudian membentuk barisan dan mulai bergerak.

Khalid melihat si penunggang kuda telah keluar dari jantung pasukan musuh. Dia menuju ke arah pasukannya. Prajurit muslim segera menyambutnya dan berucap : “Sungguh dia telah mempertaruhkan nyawanya di jalan Allah dan mempertontonkan keberaniannya dihadapan musuh. Bukalah penutup wajah itu !”

Si penunggang kuda tidak menjawab. Dia lagi – lagi beraksi menghalau bala tentara Romawi yang mulai mengepungnya dari segala arah. Di sela – sela pertempuran, pasukan muslim satu persatu datang menghampirinya, “Wahai pemuda mulia, Amir bertanya kepadamu, kamu malah menghindarinya. Beritahukanlah namamu agar bertambah rasa hormat kami terhadapmu”. Lagi – lagi dia tidak menjawab.

Setelah berkali – kali ditanya, Khalid sendirilah yang kemudian menghampirinya, “Hai, engkau telah membuat hati kami bergetar dengan perbuatanmu. Siapa sebenarnya engkau ini ?

Lalu suara lembut seorang wanita terdengar : “Wahai Amir, sesungguhnya aku tidak menjawab pertanyaanmu karena malu. Engkau adalah pimpinan tertinggi sedangkan saya hanyalah seorang lemah dan wanita tertutup”. Lalu Khalid bertanya : “Siapa namamu ?”

“Aku Khaulah binti Azwar. Aku sebelumnya datang bersama pasukan muslimah. Lalu seorang kurir mengabarkan bahwa Dhirar saudaraku, telah ditawan musuh. Oleh sebab itu, aku menunggangi kuda dan berbuat seperti apa yang telah engkau lihat”.

Mendengar pengakuan tulus tersebut, Khalid berempati : “Kami akan bertempur bersama dengan yang lain. Kami berdoa kepada Allah semoga bisa menemui saudaramu dan membebaskannya”. Setelah itu, keduanya berpisah.

Dengan gagah berani, Khalid melancarkan serangan. Mengobrak – abrik pertahanan musuh. Sementara itu, Khaulah terus berkeliling. Tidak yang diinginkannya kecuali bertemu dengan saudaranya. Sayangnya, sampai perang berakhir, tak ada satu petunjuk atau informasi yang bisa ia peroleh.

Wajah para pejuang muslim tampak gembira. Mereka memenangkan pertempuran. Di sisi lain, Khaulah masih berupaya mencari saudaranya. Ia bertanya kepada setiap prajurit. Namun, tak ada satupun dari mereka yang mengetahui kabar saudaranya.

Khaulah binti Azwar ini putus asa, perjuangannya sia – sia. Lalu mencurahkan duka yang ia alami dalam sebuah syair. “Wahai saudaraku! Seandainya saja aku tau di padang pasir mana mereka menghempaskanmu. Seandainya saja aku tau dengan tombak mana mereka menusukmu atau dengan pedang mana mereka membunuhmu. Wahai saudaraku ! Saudarimu telah datang untuk menebusmu.

Sungguh tidakkah kau lihat saudarimu akan selamanya melihatmu setelah pertempuran ini? Wahai saudaraku ! Kamu telah benar – benar meninggalkan di hati saudarimu bara api yang tidak akan pernah padam. Seandainya aku tau, kamu telah bertemu dengan ayahmu yang wafat terbunuh, maka kusampaikan salamku padamu sampai hari pertemuan”.

Selain berbakat dalam militer, Khaulah juga memiliki jiwa seni. Dia adalah penyair papan atas. Pantas saja, lantunan syairnya begitu menyentuh hati dan menggerakkan jiwa. Seorang wanita terluka menahan kerinduan akan saudaranya. Khalid dan pasukannya bahkan menitikan mata mendengar celotehan Khaulah. Mereka pun bertekad untuk terus mencari saudaranya itu.

Sampai pada suatu hari kabar mengenai dimana Dhirar ditawan, berhasil diketahui. Khalid segera menyusun strategi. Ia mengirim utusannya termasuk Khaulah untuk menyelamatkan Dhirar. Tidak berselang lama, Dhirar bebas. Kedua saudara tersebut kini bisa berkumpul kembali.

Berkat keberanian, kemampuan serta totalitasnya, Khaulah binti Azwar dikenal sebagai pedang Allah dari kalangan perempuan. Menurut catatan Muhammad at Tunji dalam Mu’jam ‘Alam an-Nisa, Khaulah wafat sekitar tahun 35 H pada akhir masa Khalifah Usman bin Affan.

Kisah Arwah Binti Abdul Muthalib

Kisah Arwah Binti Abdul Muthalib

Ia sebagaimana wanita sahabat lainnya, teladan bagi wanita muslimah. Arwa telah berjuang di jalan Allah dengan lidah dan kejujurannya, dalam setiap ruang lingkup Islam yang dilaluinya. Sulit ditandingi semangatnya dalam menyampaikan nasihat dan menunjuki manusia untuk menempuh jalan keadilan dan kebenaran, serta mengembalikan hak kepada yang berhak, sesuai dengan kemampuannya tanpa merasa sungkan atau malu.

Arwa wanita yang sangat istimewa di zamannya, karena ia pandai bersyair dan sangat fasih dalam berbicara. Ketika berbicara dengannya orang-orang akan terpaku dan terpesona mendengar keindahan bahasanya. Kelebihan itu menyempurnakan kedudukannya sebagai seorang putri bangsawan Quraisy yang terpandang dan disegani. Ia adalah bibi Rasulullah ﷺ.

Ia termasuk orang-orang yang terdahulu masuk Islam dan ikut berhijrah ke Madinah serta ikut berjuang mempertahankan Islam bersama Rasulullah ﷺ. Ialah Arwa binti Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Qurasyiyyah, bibi Rasulullah ﷺ.

Lika-liku perjalanan Islam Arwa

Pada masa jahiliyyah ia menikah dengan Umair bin Wahab bin Abdi Manaf. Dari pernikahan itu ia dikaruniai seorang putra yang bernama Kulaib (menurut referensi lain Thulaib). Setelah Umair meninggal, ia pun dinikahi oleh Artha’ah bin Syurahbil dan dikaruniai seorang putri yang bernama Fatimah.

Ahli sejarah berselisih pendapat tentang keislaman dirinya dan juga saudarinya, Atikah. Ishaq dan Ibnu Hibban termasuk ulama yang berpendapat bahwa tidak ada seorang pun bibi Nabi yang masuk Islam kecuali Shafiyah, adapun ulama selain mereka berpendapat bahwa, bibi-bibi Nabi yang masuk Islam adalah Shafiyah dan Arwa.

Suatu hari, orang-orang di sekitarnya memberitahukan bahwa putranya, Kulaib (Thulaib) bin Umair, masuk Islam di rumah al-Arqam bin Abil Arqam al-Makhzumi. Sepulang dari sana, Kulaib langsung menemui ibunya dan berkata, “(Wahai Ibu), saya telah mengikuti agama Muhammad dan saya memeluk Islam karena Allah.”

Ibunya menjawab, “Sesungguhnya orang yang paling berhak kamu dukung dan bela adalah sepupumu (Muhammad). Demi Allah, seandainya saya mampu sebagaimana kaum laki-laki, maka saya akan selalu membelanya.”

Kulaib berkata, “Kalau memang demikian, apa yang menghalangi ibu untuk masuk Islam dan menjadi pengikutnya, padahal saudara Ibu, Hamzah bin Abdul Muththalib telah masuk Islam?” Ibunya menjawab, “Saya mau melihat saudara-saudariku terlebih dahulu. (Kalau mereka masuk Islam), saya akan menjadi salah satu dari mereka (masuk Islam juga).”

Kulaib berkata, “Sesungguhnya saya memohon kepadamu, demi Allah, untuk mendatanginya (Muhammad), memberi salam kepadanya, mempercayainya, dan bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadati kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah.” Ibunya pun menuruti perintaan buah hatinya tersebut.

Setelah masuk Islam, Arwa binti Abdul Muththalib termasuk wanita yang paling gigih membela Rasulullah dan menyuruh putranya untuk selalu taat serta patuh kepada Rasulullah ﷺ.

Tegar hadapi rintangan

Suatu hari, Abu Jahal telah mempersiapkan sekelompok orang kafir Makkah untuk menganiaya Rasulullah. Mendengar hal itu, Kulaib bin Umair langsung pergi menemui Abu Jahal lalu memukulnya hingga kulit Abu Jahal terkelupas. Seketika itu juga gerombolan tersebut menyeret Kulaib dan mengikatnya. Tidak lama kemudian, datanglah Abu Lahab membebaskannya.

Orang-orang memberitahu perihal Kulaib yang membela Rasulullah kepada ibunya seraya berkata, “(Wahai Arwa, tahukah engkau bahwa putramu telah menjadi pembela Muhammad?” Dengan tegas Arwa menjawab, “Hari yang terbaik bagi Kulaib adalah hari di mana dia membela putra pamannya (Muhammad), karena memang apa yang dia bawa adalah kebenaran yang datangnya dari Allah!” Mereka bertanya, “Kalau begitu, engkau juga pengikut Muhammad?” Arwa menjawab, “Benar!”

Mendengar hal tersebut, sebagian orang-orang kafir melaporkan keislaman Arwa kepada Abu Lahab. Datanglah Abu Lahab menemui Arwa dan berkata, “Sungguh, suatu berita yang mengejutkan atas kamu yang telah mengikuti Muhammad dan meninggalkan agama Abdul Muththalib!”

Arwa menjawab, “Memang sudah seharusnya demikian. Sekarang, berdirilah di samping putra saudaramu (Muhammad) untuk menolong dan membelanya. Apabila sudah jelas perkaranya (kebenaran Muhammad bagimu), maka kamu boleh memilih antara ikut dengannya atau kamu tetap dalam agamamu.”

Sambil berpaling pergi, Abu Lahab menjawab, “Kita disegani di kalangan Arab. Bagaimana kita harus tunduk dengan orang yang datang dengan agama baru?!” Arwa menimpali sanggahannya dengan satu bait syair:

“Sesungguhnya Kulaib telah menolong putra pamannya. Ia (Kulaib) juga Rasulullah dalam lindungan-Nya dan ia infakkan hartanya untuk perjuangannya.”

Perdebatan antara Abu Lahab dan Arwa menggambarkan pada kita sosok ibu yang tegar dan tegas dalam membela putranya yang memperjuangkan kebenaran.

Arwa berkata, “Berlinanglah air mataku dan memang sudah selayaknya untuk berlinang lantaran (bapakku) yang enggan menerima kebenaran karena rasa malu.”

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Arwa sangat bersedih dan berduka karena kehilangan orang paling dicintainya dan menandai terhentinya wahyu dari langit.

Demikianlah sosok ibu teladan wanita muslimah kali ini. Arwa binti Abdul Muththalib s\ yang selalu mencurahkan perhatiannya kepada perjuangan Rasulullah ﷺ dan selalu menyeru putranya untuk mendukung dan membela perjuangan Rasulullah. Arwa, sang ibu teladan meninggal dunia sekitar tahun 15 H pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab radhiallahu.

SANG PEDANG ALLAH

SANG PEDANG ALLAH

SANG PEDANG ALLAH

Hai sobat violet semuaa! Kali ini kita akan membahas “Sang Pedang Allah” wah kira-kira siapa ya teman-teman. Khalid bin Walid, seorang sahabat Rasul yang di juluki “Pedang Allah yang terhunus”. Mengapa dia bisa mendapatkan julukan itu? Setelah memeluk Islam, Khalid bergabung dengan pasukan Perang Mu’tah melawan pasukan Romawi dengan 200 ribu prajurit. Saat itu, tiga panglima perang telah gugur.

Masuknya Khalid dalam peperangan berhasil mengatur strategi untuk keluar dari perang dengan selamat. Sejak saat itulah, Khalid mendapat julukan pedang Allah.

 

Apakah kahlid bin Walid pernah kalah di dalam perang? Khalid dan pasukannya tidak pernah dikalahkan dalam lebih dari 100 pertempuran melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan Khalifah, bahkan pasukan yang di pimpin Rasulullah pun pernah kalah dengan pasukan Khalid Ketika perang uhud.

 

Ehhh, sebelumnya kalian udah kenal banget belum sama khalid bin walid? Pastinya belum, kan? Yok kita cari tahu, siapa sih khalid bin walid ini, let’s go!

 

***

 

Khalid bin Walid adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang berjuluk Saifullah atau Sayf Allah al-Maslul yang berarti pedang Allah yang terhunus. Gelar Khalid bin Walid ini langsung diberikan Rasulullah karena keahliannya dalam peperangan.

Khalid terlahir dari keluarga kaum Quraisy. Ayah Khalid bin Walid, Walid bin Mugirah adalah salah satu pemimpin yang berkuasa di masa itu.

Keluarga mereka juga terkenal sebagai keluarga yang kaya dengan memiliki harta berupa kebun, emas, hingga budak. Namun, keluarga Khalid sangat memusuhi Islam. Khalid pun dididik memerangi Islam.

 

Khalid bahkan menjadi panglima perang kaum kafir Quraisy saat Perang Uhud yang berhasil meluluhlantakkan kaum Muslimin. Pada saat Perang Khandaq, Khalid mendapat tugas untuk membunuh Nabi Muhammad. Saat itu, hampir saja Rasulullah terbunuh.

 

Setelah peristiwa itu, Khalid bin Walid mendapat surat dari saudaranya yang baru masuk Islam. Dalam surat itu, terdapat ucapan Nabi Muhammad yang memuji kekuatan dan kecerdikan Khalid bin Walid.

Saat membaca kalimat itu, Khalid pun tertegun. Dia tak menyangka seseorang yang hampir dibunuhnya justru memujinya.

“Bagaimana bisa orang yang hampir kubunuh malah memujiku,” bisik hati Khalid bin Walid.

Khalid lalu memantapkan hati dan keimanannya. Dia pergi menjumpai Rasulullah di Madinah dan menyatakan masuk Islam.

“Mohonkanlah ampun untukku atas segala yang telah aku lakukan untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah” kata Khalid kepada Rasulullah

Rasulullah menjawab bahwa sesungguhnya keislaman itu menghapus segala yang terjadi sebelumnya. Khalid pun memohon sekali lagi kepada Rasulullah.

“Ya Allah, ampunilah Khalid bin Walid atas segala yang telah ia lakukan untuk menghalangi (orang) dari jalan-Mu,” kata Rasulullah.

Setelah memeluk Islam, Khalid bergabung dengan pasukan Perang Mu’tah melawan pasukan Romawi dengan 200 ribu prajurit. Saat itu, tiga panglima perang telah gugur.

Masuknya Khalid dalam peperangan berhasil mengatur strategi untuk keluar dari perang dengan selamat. Sejak saat itulah, Khalid mendapat julukan pedang Allah.

“Setelah itu, bendera dipegang oleh salah satu pedang Allah hingga Allah memberikan kemenangan di tangannya,” bunyi hadis Rasulullah.

Sejak saat itu, Khalid tak pernah jauh dari Rasulullah. Hingga Nabi Muhammad wafat, Khalid tetap teguh membela Islam.

Keahlian menghujam pedang, berkuda, dan menyusun strategi membuat Khalid selalu dipercaya menjadi panglima perang.

Dari satu perang ke perang lain, Khalid yang juga dikenal dengan Abu Sulaiman Saifullah ini berhasil membawa kemenangan untuk kaum Muslimin. Khalid berhasil menumpas pasukan murtad dalam perang Riddah. Begitu pula saat melawan 240 ribu prajurit Bizantium dalam Perang Yarmuk.

Meski hanya punya 40 ribu pasukan, Khalid mengatur strategi dengan membagi dalam beberapa agar bisa memenangkan peperangan. Khalid juga berhasil mengislamkan banyak orang.

Khalid bin Walid meninggal dunia setelah sempat diberhentikan sementara oleh Umar bin Khattab. Saat Khalid meninggal dunia, Umar menangis karena belum sempat mengangkat Khalid kembali ke posisi panglima perang.

Julukan Khalid bin Walid tak hanya pedang Allah yang terhunuus, para sahabat dan juga musuh menggambarkan sosok Khalid bin Walid sebagai laki-laki yang tidak pernah tidur.

 

Nah teman-teman, itulah kisah dari “Sang Pedang Allah” dulunya seorang yang sangat membenci bahkan ingin membunuh nabi, lalu Allah berikan dia hidayah dan masuk islam, dan dia menjadi seseorang yang paling menyayangi Nabi, bahkan menjadi panglima perang pasukan kaum muslimin. Keren gak? Kira-kira kisah sahabat siapa lagi nih yang mau di ceritakan? Komen di bawah ya.

DFK

KISAH SINGA DENGAN KUKUNYA YANG TAJAM

KISAH SINGA DENGAN KUKUNYA YANG TAJAM

Hai sobat violet semua! Kali ini kita akan membahas tentang seorang sahabat Rasul yang mendapat julukan “Singa Dengan Kukunya yang Tajam.” Kira-kira siapa ya? Apakah kalian pernah mendengar nama Saad bin Abi Waqqash? Nah, saad bin Abi waqqash lah yang mendapar julukan “Singa dengan Kukunya yang Tajam” kok bisa sih? Simak penjelasannya, ya.

 

Sa’ad bin Abi Waqqash r.a namanya, terhitung sebagai sahabat senior dan orang ketiga yang masuk Islam. Dialah sahabat yang pertama kali melepas anak panah dalam jihad Islam dan begitu tegar membela Rasulullah dalam perang Uhud. Sa’ad juga ikut serta dalam perang Badar sebelum menginjak usia dewasa. Dalam perang tersebut ia berjuang dengan gigih bersama Rasulullah saat sebagian pasukan lalai. Sehingga ia mendapat julukan Singa dengan kukunya yang tajam.

 

Sa’ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf hidup di tengah-tengah Bani Zahrah yang merupakan paman Rasulullah SAW. Wuhaib adalah kakek Sa’ad dan paman Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah.

Sa’ad dikenal orang karena ia adalah paman Rasulullah SAW.  Dan beliau sangat bangga dengan keberanian dan kekuatan, serta ketulusan iman Sa’ad. Nabi bersabda, “Ini adalah pamanku, perlihatkan kepadaku paman kalian!”

Keislamannya termasuk cepat, karena ia mengenal baik pribadi Rasulullah SAW. Mengenal kejujuran dan sifat amanah beliau. Ia sudah sering bertemu Rasulullah sebelum beliau diutus menjadi nabi. Rasulullah juga mengenal Sa’ad dengan baik. Hobinya berperang dan orangnya pemberani. Sa’ad sangat jago memanah, dan selalu berlatih sendiri.

Kisah keislamannya sangatlah cepat, dan ia pun menjadi orang ketiga dalam deretan orang-orang yang pertama masuk Islam, Assabiqunal Awwalun.

Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cintanya hanya untuk sang ibu yang telah memeliharanya sejak kecil hingga dewasa, dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan.

Ibu Sa’ad bernama Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya; penyembah berhala.

Pada suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq mendatangi Sa’ad di tempat kerjanya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad SAW, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa’ad menanyakan, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad SAW. Abu Bakar mengatakan dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

Seruan ini mengetuk kalbu Sa’ad untuk menemui Rasulullah SAW, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia pun memeluk agama Allah pada saat usianya baru menginjak 17 tahun. Sa’ad termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar As Siddiq dan Zaid bin Haritsah.

Setelah memeluk Islam, keadaannya tidak jauh berbeda dengan kisah keislaman para sahabat lainnya. Ibunya sangat marah dengan keislaman Sa’ad. “Wahai Sa’ad, apakah engkau rela meninggalkan agamamu dan agama bapakmu, untuk mengikuti agama baru itu? Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sebelum engkau meninggalkan agama barumu itu,” ancam sang ibu.

Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku!”

Sang ibu tetap nekat, karena ia mengetahui persis bahwa Sa’ad sangat menyayanginya. Hamnah mengira hati Sa’ad akan luluh jika melihatnya dalam keadaan lemah dan sakit. Ia tetap mengancam akan terus melakukan mogok makan.

Namun, Sa’ad lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. “Wahai Ibunda, demi Allah, seandainya engkau memiliki 70 nyawa dan keluar satu per satu, aku tidak akan pernah mau meninggalkan agamaku selamanya!” tegas Sa’ad.

Akhirnya, sang ibu yakin bahwa anaknya tidak mungkin kembali seperti sedia kala. Dia hanya dirundung kesedihan dan kebencian.

Allah SWT mengekalkan peristiwa yang dialami Sa’ad dalam ayat Al-Qur’an, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasulullah kembali menatap mereka dengan bersabda, “Sekarang akan ada di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk surga.”

Mendengar ucapan Rasulullah SAW, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu-tunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash.

Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi Waqqash juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela agama Allah. Ada dua hal penting yang dikenal orang tentang kepahlawanannya. Pertama, Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Ia hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran.

Kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah SAW dengan jaminan kedua orang tua beliau. Dalam Perang Uhud, Rasulullah SAW bersabda, “Panahlah, wahai Sa’ad! Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu.”

Sa’ad bin Abi Waqqash juga dikenal sebagai seorang sahabat yang doanya senantiasa dikabulkan Allah. Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.”

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa’ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki usia 80 tahun. Dalam keadaan sakit, Sa’ad berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar—perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin.

Pahlawan perkasa ini menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan

kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada.

 

Itulah kisah Saad bin Abi Waqqash, Singa dengan kukunya yang tajam. Terus ikuti update-an terseru di RQV indonesia. semoga bermanfaat, wassalamualaikum wr.wb

KISAH PEMABUK YANG MASUK SURGA

KISAH PEMABUK YANG MASUK SURGA

KISAH PEMABUK YANG MASUK SURGA

HAI SOBAT VIOLET! Seorang pemabuk pasti akan di adzab oleh Allah apabila dia tidak bertobat sampai akhir hayatnya. Tapi, ada pemuda di zaman Rasulullah yang suka sekali mabuk lalu dia masuk surga, tahukan kalian siapa dia? Namanya adalah Nuaiman seorang pemabuk yang masuk ke dalam surga. Apa yang membuat Nuaiman bisa masuk surga? Padahal dia suka mabuk, lalu kenapa dia masuk ke dalam surge? Yuk simak cerita di bawah ini.

 

Nuaiman adalah sahabat yang hidup sezaman dengan Rasulullah, namun ada yang tidak senang dengan kebiasaan nuaiman yang hampir tiap pagi hari mabuk. Selain itu gemar bercanda bahkan sering iseng terhadap Rasul.

Pernah suatu ketika, sesaat setelah sadar dari mabuknya, Nuaiman merasa perutnya keroncongan karena lapar. Tanpa banyak pikir panjang, nuaiman mencegat penjual makanan yang kebetulan lewat di depan masjid lalu memesan dua bungkus.

Sembari menunggu penjual menyiapkan pesanannya, Nuaiman masuk halaman masjid lalu mengajak Rasul untuk makan bersama. Rasul kemudian berdiri dan menuju ke arah Nuaiman yang sudah memegang dua bungkus makanan. Mereka berdua duduk lantas menyantap makanan tersebut.

Setelah makanan habis, Rasul hendak kembali ke masjid namun dihadang oleh Nuaiman.

“Mau kemana ya Rasul? Habis makan masak tidak bayar,” kata Nuaiman.

Rasul pun dengan senyumnya balik tanya, “Yang pesan kamu kan?”.

“Betul ya Rasul,” jawabnya sambil berdehem. Nuaiman melanjutkan perkataannya, “Di mana-mana raja itu mengayomi rakyatnya, penguasa melayani warganya,  bos mentraktir karyawannya, masak saya yang harus bayar ya Rasul?”

Rasul lantas merogoh kocek sambil memberikan sejumlah uang kepada Nuaiman dengan senyum yang agak terkekeh.

Pasca kejadian tersebut, kebiasaan mabuk Nuaiman tak kunjung berhenti. Sampai suatu ketika beberapa sahabat menghampiri Nuaiman yang masih dalam keadaan mabuk. Nuaiman lantas berdiri karena beberapa sahabat tersebut menghampiri.

“Ada apa?” Tanya Nuaiman.

“Salah seorang sahabat langsung memarahi Nuaiman dengan makian. “Kamu ini setiap hari bersama Rasul, tapi kelakuan mu tetap saja seperti ini, apa nggak malu sama Rasul?”

Sahabat yang lain meneruskan, “Dasar kamu ini orang bejat, tidak pantas orang sepertimu mencintai  Rasul karena pasti bakal di laknat oleh Allah atas perbuatanmu ini”.

Dalam keadaaan beberapa sahabat masih memaki dan menghujat Nuaiman, Rasulullah lewat dan langsung menanyakan apa yang sedang terjadi. Salah satu sahabat menceritakan kejadian sesaat sebelum Rasul datang.

Setelah mendengarkan keterangan, seketika Rasulullah memarahi para sahabat, “Jangan pernah sekali lagi kalian semua menghujat dan melaknat Nuaiman, meskipun dia seperti ini tapi dia selalu membuatku tersenyum, dia masih mencintai Allah dan Aku, dan tidak ada hak bagi kalian melarang Nuaiman mencintai Allah dan mencintaiku sebagai Rasul.”

 

Disebutkan dalam berbagai riwayat, Nu’aiman akan memasuki surge dengan tertawa. … “Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Nuaiman ketika meninggal dunia akan masuk ke dalam surga dengan tertawa karena ia selalu menyenangkan Rasulullah SAW dan para sahabat,”

 

Nah, sekarang teman-teman tahu, kan mengapa Seorang pemabuk seperti Nuaiman bisa masuk ke dalam surga? ya, dia masuk ke dalam surge karena sifat polosnya dan dia selalu mengerjakan sesuatu dengan hati, bukan karena di buat-buat ataupun ingin dilihat oleh para sahabat. Wallahualam bishawab.

 

 

Need Help? Chat with us