RQV Foundation dan Sourireatous Renovasi Madrasah di Kampung Gegerbitung

Kolaborasi RQV Foundation dan Sourireatous Wujudkan Ruang Belajar Layak di Kampung Terpencil

Gegerbitung, 8 Juni 2025 – Tak pernah terbayangkan oleh warga Kampung Gegerbitung bahwa bangunan sederhana yang dulu nyaris roboh, bocor setiap hujan, dan hanya berdinding bilik bambu kini telah menjelma menjadi madrasah yang layak, bersih, dan penuh harapan.

RQV Foundation dan Sourireatous Renovasi Madrasah di Kampung Gegerbitung

Berada di kawasan terpencil yang aksesnya jauh dari jalan besar, Kampung Gegerbitung selama ini hidup dalam keterbatasan. Namun hari ini, senyum anak-anak kembali merekah. Harapan kembali tumbuh. Semua itu berkat renovasi total madrasah yang terwujud melalui kolaborasi RQV Foundation dan Sourireatous, sebuah lembaga kemanusiaan internasional.

Sebuah Awal dari Masa Depan Baru

Madrasah ini dulunya hanyalah bangunan darurat yang didirikan swadaya oleh warga. Atapnya bocor, lantainya tanah, dan dindingnya dari anyaman bambu yang rapuh. Ruang belajarnya hanya satu, tanpa ventilasi yang cukup. Namun keterbatasan itu tidak pernah memadamkan semangat belajar anak-anak Gegerbitung.

“Kalau hujan, kami tetap belajar meski basah. Kalau malam, kami pakai lilin karena belum ada listrik stabil,” kenang Rizki, santri kecil berusia 10 tahun yang baru lancar membaca Iqra.

Kini, setelah proses renovasi selama beberapa bulan, bangunan tersebut berdiri kokoh dengan tembok permanen, atap seng kuat, lantai keramik, dan pencahayaan yang layak. Di dalamnya terdapat dua ruang belajar, ruang guru, serta rak buku sederhana. Sebuah papan tulis bersih terpampang di depan, menggantikan triplek lusuh yang dulu digunakan.

Proses Renovasi yang Melibatkan Hati

Renovasi ini dimulai dari hasil asesmen lapangan RQV Foundation, yang selama ini memiliki fokus pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat terpencil. Setelah melihat langsung kondisi madrasah dan potensi semangat belajar warganya, RQV mengusulkan proyek ini sebagai salah satu program prioritas tahun 2025.

Sourireatous, yang selama ini aktif mendanai proyek kemanusiaan di berbagai negara, menyambut ajakan kolaborasi ini dengan tangan terbuka. Dukungan dana, bahan bangunan, dan semangat solidaritas internasional menyatu dalam program ini.

“Kami tidak ingin hanya membangun gedung, tapi juga membangun mimpi anak-anak,” ujar perwakilan Sourireatous saat peresmian. “Kami percaya, pendidikan adalah kunci keluar dari kemiskinan dan keterpencilan.”

Pembangunan dilakukan secara gotong royong. Tukang lokal dikerahkan. Warga ikut bahu membahu menyiapkan bahan, membawa air, dan membantu pembangunan. Semua dilakukan tanpa upah, dengan penuh keikhlasan.

“Ini madrasah kita bersama. Kalau bukan kita yang bangun, siapa lagi?” kata Pak Encep, tokoh masyarakat Gegerbitung.

Peresmian yang Penuh Haru

Peresmian Madrasah Harapan Gegerbitung berlangsung sederhana namun khidmat. Anak-anak tampil membacakan ayat suci Al-Qur’an, beberapa di antaranya melantunkan shalawat, dan ibu-ibu menyiapkan hidangan tradisional dari hasil kebun.

Hadir dalam peresmian tersebut adalah perwakilan dari RQV Foundation dan Sourireatous, para guru ngaji, tokoh masyarakat, serta ratusan warga kampung.

“Terima kasih untuk semua yang sudah peduli pada anak-anak kami. Mereka sekarang bisa belajar dengan layak, tidak lagi khawatir kehujanan atau kepanasan. Semoga ini menjadi amal jariyah yang tak terputus,” ujar Ustazah Lina dengan mata berkaca-kaca.

Salah satu anak, Dinda (11 tahun), mengungkapkan impiannya, “Aku ingin jadi guru ngaji seperti Ustazah. Sekarang aku semangat belajar, soalnya madrasahnya bagus.”

Madrasah Sebagai Pusat Aktivitas dan Penggerak Komunitas

Renovasi madrasah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengaji. RQV Foundation telah merancang madrasah ini sebagai pusat kegiatan warga: Tempat belajar dan mengaji untuk anak-anak

Pelatihan keterampilan ibu-ibu, seperti kerajinan tangan dan pengolahan hasil kebun

Kelas parenting dan penguatan keluarga

Forum diskusi dan musyawarah warga

“Di sinilah titik baliknya. Kami ingin menjadikan madrasah ini sebagai pusat perubahan desa. Karena pendidikan bukan sekadar tentang baca-tulis, tapi juga pemberdayaan,” jelas koordinator program RQV Foundation.

Langkah selanjutnya adalah menghadirkan guru tetap, menyediakan perlengkapan belajar tambahan, dan memperkuat program bimbingan untuk remaja desa agar tidak putus sekolah.

Potret Kehidupan Kampung GegerbitungDi balik keberhasilan renovasi ini, kondisi Kampung Gegerbitung tetap menyimpan banyak tantangan. Air bersih masih menjadi kendala besar. Warga harus berjalan ke kaki gunung sejauh lebih dari satu kilometer hanya untuk mendapatkan air. Kadang mereka harus antre berjam-jam untuk satu jerigen.

Sebagian besar warga bekerja sebagai petani ladang, buruh bangunan, dan pekerja serabutan. Pendapatan tak menentu, dan tidak semua anak bisa lanjut sekolah karena harus membantu orang tua.

Namun semangat mereka untuk berubah sangat kuat. Renovasi madrasah menjadi simbol bahwa mereka tidak ditinggalkan, bahwa ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.

“Kalau anak-anak punya tempat belajar yang bagus, mereka akan punya mimpi. Dan kalau mereka punya mimpi, insyaAllah kampung ini bisa berubah,” ujar Bu Komariah, ibu dari lima anak yang aktif membantu pembangunan.

Kolaborasi yang Inklusif dan Berkelanjutan

RQV Foundation menyampaikan bahwa proyek ini adalah bagian dari misi besar untuk menjangkau kampung-kampung terpencil di Indonesia. Bersama mitra seperti Sourireatous, RQV ingin memastikan bahwa setiap anak, di mana pun mereka berada, punya hak yang sama untuk belajar dalam kondisi yang layak.

“Bagi kami, ini bukan akhir, tapi justru awal dari perjalanan. Kampung seperti Gegerbitung tidak hanya butuh bangunan, tapi juga pendampingan jangka panjang,” kata Manajer Program RQV Foundation.

Dalam waktu dekat, program pelatihan guru lokal, pengadaan kitab dan buku anak, serta perbaikan fasilitas sanitasi di sekitar madrasah akan segera dimulai. RQV juga mengajak berbagai pihak untuk bergabung dalam gerakan perubahan ini.

Penutup: Dari Dinding Bambu ke Tembok Harapan

Renovasi Madrasah Harapan Gegerbitung menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas batas mampu menghadirkan perubahan nyata. Dari bilik bambu yang reyot, kini berdiri ruang belajar yang menginspirasi. Dari anak-anak yang dulu belajar di bawah cahaya lilin, kini mereka bisa mengejar cita-cita dengan kepala tegak.Kampung Gegerbitung mungkin masih jauh dari kata “ideal”, namun satu langkah besar sudah dimulai. Dan langkah itu, dimulai dari sebuah madrasah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top